Low self esteem : Bahaya Tersembunyi dari Low Self-Esteem dalam Kehidupan Sehari-Hari

Pernahkah kita merasa minder hanya karena melihat pencapaian orang lain di media sosial? Ada yang tampak lebih sukses, lebih menarik, atau seolah hidupnya sempurna. Perlahan, kita mulai membandingkan diri sendiri dan tanpa sadar muncul bisikan halus,“Aku tidak cukup baik.”

Inilah yang disebut low self-esteem, perasaan kehilangan keyakinan terhadap diri sendiri. Di era media sosial yang penuh perbandingan seperti sekarang, kondisi ini semakin mudah muncul. Media yang seharusnya menjadi sarana berbagi kebahagiaan justru sering berubah menjadi sumber rasa kurang dan ketidakpuasan diri.

   Namun, low self-esteem bukan sekadar perasaan sepele. Jika dibiarkan, ia dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan, menjalin hubungan, bahkan menilai makna hidup kita sendiri. Karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa itu low self-esteem, apa bahayanya, dan bagaimana menemukan jalan keluarnya.

   Istilah self-esteem berasal dari bahasa Inggris: self berarti “diri” dan esteem berarti “penghargaan” atau “penilaian”. Dalam psikologi, self-esteem diartikan sebagai sejauh mana seseorang menilai dirinya secara positif atau negatif, baik dari segi kemampuan, nilai, maupun keberhargaan dirinya. Dengan kata lain, self-esteem mencerminkan bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri: apakah ia merasa layak, berharga, dan mampu, atau justru sebaliknya.

   Seseorang yang mengalami low self-esteem cenderung menilai dirinya rendah, merasa tidak penting, dan menganggap dirinya tidak mampu dibandingkan orang lain. Kondisi ini bukan hanya sekadar rasa minder sesaat, tetapi merupakan pola pikir yang berulang. Pola ini sering terbentuk dari pengalaman masa kecil, pola asuh yang tidak suportif, tekanan sosial, hingga tuntutan lingkungan sekitar. Di era media sosial, perbandingan menjadi semakin mudah. Melihat keberhasilan orang lain yang ditampilkan dengan sempurna dapat memperburuk rasa rendah diri seseorang dan membuatnya merasa hidupnya tidak seberharga orang lain.

   Ciri-ciri low self-esteem dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari. Orang dengan kepercayaan diri rendah sering:

• Meragukan kemampuannya sendiri,

• Merasa tidak pantas menerima pujian,

• Sulit mengambil keputusan karena takut salah,

• Menghindari tantangan atau menarik diri dari lingkungan sosial,

• Sering membandingkan diri dengan orang lain.

   Selain itu, mereka mudah merasa cemas ketika harus tampil di depan umum, terlalu sensitif terhadap kritik, serta kerap merasa bersalah meskipun bukan sepenuhnya kesalahannya.

Dialog batin negatif seperti “Saya tidak bisa” atau “Saya tidak layak” terus berulang dalam pikiran, hingga akhirnya menurunkan motivasi dan semangat hidup. Dalam jangka panjang, pola ini bisa menyebabkan seseorang kehilangan arah, sulit berkembang, bahkan jatuh ke dalam keputusasaan.

   Secara psikologis, low self-esteem membuat seseorang rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi karena terus merasa tidak cukup baik. Dalam hubungan sosial, ia mungkin menjadi tertutup, sulit menyampaikan pendapat, dan mudah dimanfaatkan karena tidak berani menolak. Di dunia pendidikan maupun karier, rasa minder menghambat keberanian untuk mengambil keputusan dan menghadapi tantangan, serta dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perfeksionisme yang justru menghambat produktivitas.

   Lalu, bagaimana jika kita sudah terlanjur memiliki low self-esteem? Apakah kita harus menerima keadaan begitu saja? 

   Sebagai umat beriman, kita memiliki pedoman hidup yang tak pernah salah arah: Al-Qur’an, yang diturunkan oleh Allah sebagai petunjuk bagi manusia agar mampu memahami nilai dirinya secara utuh dan objektif.

   Pertama, kita perlu menyadari bahwa setiap manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana disebutkan dalam QS. At-Tin [95]: 4:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

   Ayat ini memberikan pesan penting bahwa setiap manusia memiliki keistimewaan yang tidak boleh diremehkan. Low self-esteem muncul ketika seseorang lupa akan hal ini dan merasa tidak berharga karena membandingkan dirinya dengan orang lain. Padahal, Allah telah menetapkan kesempurnaan manusia sejak awal penciptaannya. Menyadari hal ini menumbuhkan rasa syukur dan kepercayaan diri. Kita belajar menerima diri apa adanya, bukan karena merasa sempurna, tetapi karena memahami bahwa Allah menciptakan kita dengan tujuan dan nilai yang luhur.

Selanjutnya, dalam QS. Al-Hujurat [49]: 11, Allah berfirman:

“Dan janganlah kalian mencela dirimu sendiri dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

   Ayat ini menegaskan bahwa mencela diri sendiri sama buruknya dengan merendahkan orang lain. Ketika seseorang terus mengulang kata-kata negatif tentang dirinya, ia seakan memperkecil anugerah Allah yang telah diberikan. Allah memerintahkan manusia untuk menjaga lisan dari ucapan yang merusak baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Pesan ini sejalan dengan upaya mencegah low self-esteem, yaitu dengan menjaga pikiran dan ucapan agar tidak menjadi racun bagi kepercayaan diri kita sendiri.

Selain itu, Allah mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Dalam QS. Adh-Dhuha [93]: 3 disebutkan:

“Tuhanmu tidak meninggalkan engkau dan tidak (pula) membencimu.”

   Ayat ini memberi ketenangan bagi siapa pun yang merasa lemah atau tidak berharga. Allah selalu dekat dan tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Ketika seseorang merasa terpuruk karena rendah diri, ayat ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang Allah selalu menyertai, bahkan di masa-masa sulit.

Terakhir, Allah menegaskan dalam QS. Al-Insyirah [94]: 5:

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

   Ayat ini menghadirkan cahaya harapan bagi mereka yang tengah berjuang melawan rasa tidak percaya diri. Rasa minder sering membuat seseorang lupa bahwa setiap kesulitan selalu diiringi kemudahan. Masalah bukanlah akhir, melainkan jalan untuk menemukan potensi tersembunyi yang diberikan Allah. Dengan menghayati pesan ini, kita belajar bahwa setiap ujian bukan tanda kelemahan, tetapi peluang untuk tumbuh dan memperkuat diri.

   Low self-esteem membuat seseorang kehilangan keyakinan terhadap potensi dirinya. Ia sering merasa rendah, takut salah, dan mudah menyerah. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat menghambat hubungan sosial, pendidikan, hingga aspek lainnya. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap manusia telah diciptakan dalam bentuk terbaik, tidak boleh mencela dirinya sendiri, dan selalu memiliki harapan di balik setiap kesulitan.

   Dengan menanamkan mindset ini, kita bisa belajar menyayangi diri secara sehat, bukan dengan kesombongan, melainkan dengan rasa syukur dan penghargaan terhadap anugerah Allah. Sebab, percaya diri sejati lahir bukan dari pembandingan dengan orang lain, melainkan dari kesadaran bahwa kita adalah manusia yang memiliki tujuan hidup di hadapan Sang Pencipta.

 

PENULIS: Ahmad Azaria Adhitama

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *