Saat Rasa dan Pikiran Mengarah ke Satu Arah (Rekonsiliasi Emosi)

Ada masa ketika manusia merasa dirinya terpecah antara dua sisi yang sama kuat, bergejolak dalam pikiran yang berusaha untuk ditenangkan. Pikiran dan Perasaan yang muncul ketika ingin memahami diri, menata amarah, menenangkan cemas, menelusuri luka, hingga kini sampai pada ujung perjalanan dari Series Emosi.

    Dalam ilmu psikologi, manusia sering diibaratkan sebagai sistem yang kompleks, perpaduan antara cognitive function (fungsi berpikir) dan affective function (fungsi perasaan). Ketika keduanya tak seimbang, lahirlah kekacauan batin seperti overthinking, kecemasan, bahkan dorongan menyakiti diri. Penelitian oleh Borchard et al. (2021) di Journal of Clinical Psychology menemukan bahwa ketidaksinkronan antara aktivitas limbik (pusat emosi di otak) dan korteks prefrontal (pengatur logika) menjadi dasar munculnya distress emosional pada individu dewasa muda. Mereka menyimpulkan bahwa penyembuhan mental tidak cukup hanya dengan terapi kognitif, tetapi perlu emotional integration yaitu proses mengakui, memahami, dan memeluk emosi sebagai bagian dari diri.

    Secara spiritual, integrasi tersebut merupakan bentuk kesadaran, bahwa manusia diciptakan tidak hanya untuk berpikir, tetapi juga untuk memahami dan merasakan (empati). Namun, keduanya akan bermakna ketika mengarah pada satu arah, yaitu pengenalan diri yang membawa pada pengenalan Sang Pencipta.

Tubuh bukanlah sekadar wadah tetapi amanah. Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” 

(QS. At-Tin: 4)

Setiap organ diciptakan dengan peran yang terukur. Otak, misalnya, ditempatkan paling tinggi dan paling terlindungi, di balik tulang tengkorak yang keras, seolah Allah ingin menegaskan bahwa kesadaran adalah anugerah yang harus dijaga. Psikologi kognitif modern pun sejalan. Menurut riset Fujita dan Inzlicht (2022) dalam Annual Review of Psychology, otak manusia dirancang untuk self-regulation, yaitu kemampuan mengendalikan dorongan, mengatur perhatian, dan menjaga arah perilaku sesuai nilai hidup. Maka, ketika seseorang merusak pikirannya (melalui stres berkepanjangan, luka batin, atau bahkan tindakan menyakiti diri), sejatinya juga merusak sistem yang paling suci, apa itu? kesadaran itu sendiri.

    Rekonsiliasi emosi berarti menyadari kembali bahwa tubuh ini bukan milik mutlak kita tetapi pinjaman, amanah, bukan alat pelampiasan melainkan jembatan menuju kesadaran yang lebih tinggi.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh tubuh akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah, itulah al-qalb.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

    Secara literal, banyak terjemahan menyebut “al-qalb” sebagai hati. Namun secara linguistik dan kontekstual, kata “qalb” (قلب) dalam bahasa Arab berarti “sesuatu yang berbolak-balik”, simbol dari dinamika kesadaran, bukan organ hati biologis. Makna hadis tersebut dapat dimaknai sebagai penegasan bahwa pusat kendali manusia adalah sistem kesadaran, yang kini kita pahami sebagai otak dan seluruh jaringan sarafnya. Karena dari sanalah keputusan, niat, dan moralitas terbentuk. Menurut Davidson & Schuyler (2023) dari Center for Healthy Minds, University of Wisconsin, proses moral dan spiritual manusia sangat bergantung pada prefrontal cortex dan insula, dua bagian otak yang berperan dalam empati, kesadaran diri, dan nilai-nilai moral. Jika wilayah tersebut terganggu, individu cenderung kehilangan arah nilai, sebagaimana disebut “qalb yang rusak” dalam hadis.

   Dengan demikian, hadis tersebut tidak menolak sains, melainkan menyiratkan harmoni antara wahyu dan akal bahwa kesehatan spiritual sejati adalah kesehatan kesadaran, saat pikiran dan iman sejalan dalam arah yang sama. Iman dalam hal ini bukan sekadar keyakinan teologis, melainkan kesadaran yang terintegrasi, dimulai dengan pikiran dan tindakan.
Ketika seseorang memahami bahwa setiap emosi adalah cara jiwa berkomunikasi, dan setiap luka adalah panggilan untuk kembali mengenal Pencipta, maka iman bukan lagi dogma, tetapi arah hidup.

    Riset oleh Koenig et al. (2021) dalam Journal of Religion and Health membuktikan bahwa spiritualitas dan praktik keimanan dapat menurunkan tingkat stres dan depresi hingga 25% melalui aktivasi sistem saraf parasimpatik yaitu mekanisme biologis yang menenangkan tubuh. Artinya, iman bukan hanya mengenai keyakinan abstrak, tetapi memberi efek fisiologis nyata terhadap stabilitas emosi. Dalam keadaan itulah, pikiran akhirnya mengarah ke satu arah.
Ke arah kesadaran bahwa segala yang kita rasakan, pikirkan, dan perjuangkan sejatinya bermuara pada satu hal, menjadi manusia yang sadar akan tujuan penciptaannya.

    Mungkin kita belum “selesai”, mungkin kita masih memulihkan, masih belajar, masih berbenah. Namun sekarang kita tahu: ada satu arah yang bisa kita tuju. Arah itu memberikan kepastian bahwa kita bukan sekadar bertahan dalam kekacauan, tetapi sedang membangun keutuhan. Kenal dan Sadarilah Tujuanmu Diciptakan.

Semoga tulisan ini menjadi pembuka bagi bab selanjutnya dalam hidupmu

 

PENULIS : Reine

 

 

Daftar Pustaka

Borchard, L., Krause, N., & Green, J. (2021). Neural integration and emotional distress among young adults.Journal of Clinical Psychology, 77(12), 2601–2615.

Davidson, R. J., & Schuyler, B. S. (2023). The neurobiology of moral and spiritual awareness. Center for Healthy Minds, University of Wisconsin.

Ford, B. Q., Shallcross, A. J., & Mauss, I. B. (2023). Emotional integration predicts resilience and post-traumatic growth. Emotion, 23(4), 721–735.

Fujita, K., & Inzlicht, M. (2022). Self-regulation and the brain: Cognitive control in emotional contexts. Annual Review of Psychology, 73(1), 357–383.

Koenig, H. G., Al-Zaben, F., & VanderWeele, T. J. (2021). Religion, spirituality, and mental health: Recent developments. Journal of Religion and Health, 60(4), 2972–2985.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *