Kebingungan bukan tanda lemah. Ia adalah tanda bahwa kau sedang tumbuh.
Dalam banyak kisah suci, perubahan besar selalu dimulai dari sunyi. Dari gua, dari malam, dari perasaan asing terhadap dunia yang dulu terasa akrab. Nabi Muhammad tidak menerima wahyu di tengah pesta atau pasar beliau sendirian di Gua Hira, dengan dada yang gelisah dan pikiran yang tak bisa berhenti bertanya. Dan bahkan setelah wahyu pertama turun, beliau masih gemetar, takut, bingung, mencari keyakinan di pelukan Khadijah.
Itulah manusia. Bahkan nabi pun pernah bingung.
Tapi di dunia hari ini, kita diajari untuk selalu yakin. Harus tahu arah karier, harus tahu panggilan hidup, harus tahu siapa diri kita di umur dua puluh sekian. Padahal kadang, yang paling jujur dari perjalanan spiritual justru ketika kita tak tahu apa pun selain bahwa ada sesuatu di dalam diri yang terus memanggil.
Kebingungan adalah ruang pertemuan antara manusia dan dirinya sendiri. Ia mengikis ego, menghancurkan konstruksi palsu, lalu memaksa kita menatap siapa kita tanpa topeng. Tak nyaman, ya. Tapi mungkin memang dari situlah perubahan yang sejati lahir.
Asia Tenggara hari ini adalah wilayah yang juga sedang “di gua”-nya sendiri: terhimpit antara tradisi dan modernitas, iman dan algoritma, solidaritas dan individualisme. Kita mencoba bertahan, mencari makna baru di tengah riuh kapitalisme digital dan moralitas yang terasa cair. Tapi seperti halnya wahyu yang datang di tengah gelap, mungkin masa bingung ini bukan akhir melainkan panggilan untuk berubah.
Mungkin Tuhan sedang berbisik di telingamu lewat kebingunganmu sendiri.
Bahwa jalan belum terlihat bukan berarti tak ada. Bahwa rasa takutmu bukan tanda gagal, tapi tanda bahwa kau sedang berada di ambang sesuatu yang lebih besar.
Jadi, jangan takut berubah. Jangan takut kalau sekarang belum tahu arah.
Karena bahkan seorang nabi pernah bingung di gua sebelum cahaya itu datang.
Dan mungkin kini, setelah gelap panjang dunia digital dan hiruk-pikuk pencarian identitas, saatnya kita berubah kembali ke fitrah.
Kembali ke shirāṭal mustaqīm jalan kebenaran yang tak hanya ada di langit, tapi juga di dunia: dalam cara kita hidup, bekerja, dan memperlakukan sesama.
Di mana jalan itu hari ini?
Mari kita temukan dan diskusikan bersama Teodisi.
