Yang Kau Butuh Mungkin Bukan Jawaban, Tapi Pelukan
Kadang manusia datang ke Tuhan seperti datang ke mesin jawaban. Kita mengetik doa, menunggu notifikasi, berharap “iya” atau “tidak.” Tapi sering kali yang datang hanya diam. Dan di antara diam itu, kita mulai merasa: mungkin Tuhan tak lagi peduli.
Namun, bagaimana kalau sebenarnya yang Ia kirim bukanlah jawaban, melainkan pelukan yang tak berbentuk kata?
Ada saat ketika dunia terasa terlalu berat untuk dijelaskan. Ketika teologi tak menenangkan, dan kutipan motivasi terasa palsu. Saat itu, kebutuhan kita bukan lagi logika, tapi kehadiran. Pelukan adalah bentuk kasih yang paling jujur karena ia tak berdebat. Ia hanya berkata: “Aku di sini.”
Banyak di antara kita tumbuh dalam budaya yang mengagungkan kepastian. Kita ingin ayat untuk setiap air mata, ingin doktrin untuk setiap luka. Tapi iman yang matang tak selalu membutuhkan penjelasan. Kadang iman itu adalah keberanian untuk duduk dalam ketidakpastian, bersama entitas yang mau diam bersamamu.
Mungkin Tuhan tahu: yang kau butuh bukan kalimat baru, tapi sentuhan yang menenangkan hatimu.
Bukan dalil tambahan, tapi keberanian untuk merasa dicintai meski tanpa alasan.
Karena dalam diamnya, Tuhan tidak sedang menjauh. Ia sedang memelukmu melalui hal-hal kecil yang tak kau sadari, secangkir teh hangat dari ibu, teman yang tak banyak bicara tapi selalu ada, atau bahkan napas yang masih kau ambil hari ini.
Dan mungkin, justru di situlah jawaban itu tinggal.
Penulis : Abqurah
