Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok “Hawa”

Dalam pemahaman umum yang telah berkembang di banyak masyarakat, “Hawa” dikenal sebagai perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah. Kisahnya hampir selalu disandingkan dengan sosok Adam. Narasi yang paling populer menyebut bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam untuk menjadi pendampingnya di surga. Dari kisah tersebut, muncul pandangan bahwa Hawa adalah “ibu dari seluruh manusia,” sosok yang melambangkan kasih sayang, pengasuhan, dan kelahiran. Persepsi tersebut kemudian membentuk citra perempuan sebagai pusat kehidupan dan sumber ketenangan bagi manusia. Namun, jika kita menelaah lebih dalam, sosok Hawa yang selama ini kita kenal ternyata tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an. Nama “Hawa” sama sekali tidak muncul dalam kitab suci tersebut, yang disebut hanyalah kata zauj atau “pasangan” Adam.

Ayat yang paling sering dikaitkan dengan kisah ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 35. Allah berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya:

“Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan pasanganmu di dalam surga, dan makanlah dengan bebas dari apa saja yang kamu berdua sukai; tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, karena nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.’”

    Pada ayat tersebut, Allah menggunakan kata zaujuka (pasanganmu), bukan nama khusus seperti “Hawa.” Dalam kebahasaan Arab, kata zauj tidak hanya merujuk pada pasangan perempuan. Kata tersebut berarti “pasangan,” “pendamping,” bahkan “komplementer.” Artinya, zauj tidak terbatas pada hubungan biologis atau pernikahan dalam pengertian manusia, melainkan dimaknai lebih luas sebagai sesuatu yang berpasangan, saling melengkapi, atau satu kesatuan yang tak terpisahkan.

   Dengan memahami hal tersebut, kita dapat melihat bahwa kata zauj dalam ayat ini tidak semata-mata menunjuk pada figur perempuan bernama Hawa, melainkan dapat dimaknai secara lebih luas dan simbolik. Sekali lagi, dalam analisis kebahasaan Al-Qur’an, akar kata z-w-j yang membentuk istilah zauj memiliki makna dasar “berpasangan” atau “dua yang saling melengkapi.” Karena itu, penggunaannya tidak hanya terbatas pada konteks suami-istri, tetapi juga dapat merujuk pada segala bentuk pasangan yang bersifat fungsional, sosial, bahkan spiritual (Hujaz, Huda, & Qalyubi, 2023). Dalam beberapa ayat lain, istilah zauj juga digunakan untuk menggambarkan pasangan dari jenis tumbuhan, binatang, dan kelompok makhluk lainnya, sebuah indikasi bahwa makna zauj bersifat universal dan tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu.

    Kajian serupa juga disampaikan oleh Hasyim dan Nasrulloh (2024), yang membedakan antara istilah imra’ah, zauj, dan nisā’ dalam Al-Qur’an. Mereka menjelaskan bahwa zauj tidak selalu berfungsi sebagai padanan kata “istri” dalam pengertian relasi biologis, melainkan lebih mengacu pada entitas yang bersanding secara eksistensial, dua pihak yang diciptakan untuk saling melengkapi dalam tugas dan tanggung jawab. Dalam hal tersebut, penyebutan zaujuka(pasanganmu) pada Surah Al-Baqarah ayat 35 dapat dipahami bukan sebagai sosok perempuan bernama Hawa, melainkan sebagai simbol umat manusia yang kelak akan hadir bersama Adam dalam menjalankan amanah kekhalifahan di bumi. Dalam hal ini, tidak serta-merta meniadakan keberadaan Hawa sebagai sosok historis, tetapi mengajak kita untuk melihat makna yang lebih dalam. Bahwa Al-Qur’an, dengan gaya bahasanya yang kaya makna, tidak menonjolkan identitas personal Hawa justru karena pesan yang ingin disampaikan melampaui aspek biologis. Fokusnya bukan pada siapa yang pertama diciptakan atau dari mana ia berasal, tetapi pada konsep kemitraan dan tanggung jawab bersama antara manusia dan Tuhan. 

   Kesimpulannya, figur yang selama ini dikenal sebagai Hawa dapat dipahami bukan semata sebagai individu perempuan pertama, melainkan sebagai simbol umat manusia yang mendampingi Adam dalam menjalankan amanah ilahi. Dengan tidak disebutnya nama “Hawa” secara eksplisit dan digunakannya istilah zauj yang bermakna luas, Al-Qur’an mengarahkan perhatian kita pada hakikat relasi spiritual dan sosial antara manusia dan Tuhannya. “Hawa” dalam kerangka tersebut bukan sekadar sosok perempuan biologis, tetapi lambang kemanusiaan yang tunduk dan taat kepada perintah Allah, pendamping Adam dalam misi kekhalifahan, bukan hanya di surga, tetapi juga di bumi. Hal tersebut menggeser fokus narasi dari persoalan asal-usul biologis menuju pemaknaan eksistensial, bahwa manusia, laki-laki maupun perempuan, diciptakan untuk saling melengkapi dan bersama-sama menjalankan amanah Tuhan. Dengan begitu, kisah Adam dan pasangannya bukan kisah dua insan pertama, tetapi cerminan dari hubungan spiritual, sosial, dan moral yang menjadi dasar kehidupan manusia hingga kini.

 

Penulis: Angkasa

 

Daftar pustaka

Hasyim, M., & Nasrulloh. (2024). Sebutan Istri dalam Narasi Al-Qur’an: Telaah Konseptual dan Kontekstual Kata Imra’ah, Zauj, dan Nisā’ Perspektif Al-Furūq al-Lughawiyyah. Holistik Analisis Nexus, 3(1). 

Hujaz, M., Huda, N., & Qalyubi, S. (2023). Analisis Semantik Kata Zawj dalam Al-Qur’an. AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur’an,

4(2).  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *