Istri Nabi Nuh “Ketika Cinta Tak Dapat Menyelamatkan Iman”

Kisah istri Nabi Nuh selalu menjadi cermin yang tenang tapi menyakitkan yaitu seseorang yang hidup di sisi seorang nabi, mendengar setiap peringatan, melihat setiap tanda, namun tetap menolak untuk percaya. Istri Nabi Nuh bukan orang jauh, bukan musuh dari luar tetapi dia adalah “orang dalam”, yang seharusnya paling mudah mengerti, tapi justru memilih menutup akal pikir. Dan di situlah letak logikanya bahwa kedekatan tidak menjamin kesadaran. Banyak orang mengira bahwa karena seseorang lahir di lingkungan religius, bergaul dengan orang baik, atau punya keluarga yang saleh, maka otomatis ia “ikut selamat”. Tapi kisah istri Nuh menampar kenyataan itu. Dekat bukan berarti terlibat. Dia hidup bersama seorang pembawa risalah, namun Akalnya tidak pernah ikut berlayar dalam misi yang dibawa suaminya.

    Saat Nuh menyeru umatnya bertahun-tahun, istrinya ada di rumah, mendengar, menyaksikan, tapi juga mencibir. Dia tidak melawan secara frontal, tapi menolak dalam diam. Mungkin baginya, apa yang dilakukan suaminya terlalu idealis, terlalu jauh dari kenyataan sosial. Dia memilih tetap pada “arus besar” masyarakatnya, menjaga posisi aman, tidak mau ikut sesuatu yang dianggap aneh oleh mayoritas. Dan itulah titik kejatuhannya yaitu memilih kenyamanan sosial di atas kebenaran.

    Ketika bahtera dibangun, orang-orang menertawakan. Istrinya pun mungkin tersenyum sinis melihat betapa “anehnya” seorang tua yang sibuk membangun “bahtera”. Apa yang dulu ditertawakan ternyata adalah satu-satunya jalan keselamatan. Namun saat itu sudah terlambat, karena bahtera bukan tentang fisik tetapi simbol dari sebuah persaudaraan, tempat orang-orang yang beriman bersatu dalam satu tujuan yakni menyelamatkan kehidupan dengan kebenaran.

    Logikanya sederhana tapi tajam, siapa yang menolak bergabung dalam perjalanan kebenaran, akan tertinggal, terlupakan, bahkan terhapus dari sejarah perjuangan itu. Bukan karena kebetulan, tapi karena dunia ini memang punya hukum moralnya sendiri. Orang yang tidak mau ikut dalam gerakan kebaikan tidak akan pernah menjadi bagian dari warisan kebaikan. Mereka mungkin pernah dikenal, tapi tak akan dikenang. Mereka mungkin dekat dengan cahaya, tapi tak pernah hangat olehnya.

    Istri Nuh menjadi simbol dari semua orang yang menyaksikan kebenaran namun tak mau berpihak. Dia bukan musuh yang menyerang dari luar, tapi kebekuan yang tumbuh dari dalam rumah sendiri. Hal itu jauh lebih berbahaya. Tapi sejarah memberi garis tegas bahwa ketika air mulai naik, yang bertahan bukanlah yang punya hubungan darah, melainkan hubungan yang memiliki tujuan mulia dan suci.

    Dunia ini tak menilai dari seberapa dekat kita dengan kebenaran, tapi seberapa dalam kita mau hidup di dalamnya. Karena kedekatan tanpa keterlibatan adalah kehampaan. Dan kehampaan itu, cepat atau lambat, akan tenggelam, seperti istri Nuh yang akhirnya tak tercatat sebagai bagian dari perjalanan risalah suaminya.

 

Penulis: Gwen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *