Asiyah, istri Fir’aun, hidup di istana, di tempat kekuasaan dipuja dan kebenaran dibungkam. Asiyah berada sangat dekat dengan orang yang mengaku sebagai “Rabb” dan memerintah dengan kesombongan yang menakutkan.
Iman itu anugerah, petunjuk, dan cahaya dari Allah. Seperti firman-Nya:
“Tidak seorang pun dapat beriman kecuali dengan izin Allah.”
(QS. Yunus: 100)
Yang membuat kisahnya begitu menyentuh bukan hanya karena ia beriman, tapi karena ia beriman di tempat di mana iman dianggap ancaman.
Asiyah memiliki segalanya, kekayaan, status, penghormatan. Tapi semua itu tidak pernah menjadi alasan baginya untuk menutup mata dari kebenaran. Saat ia mengenal ajaran Nabi Musa, Qolbunya langsung mengenali cahaya itu. Dia memilih di Jalan Allah. Keputusan itu membuat Fir’aun marah. Ia menyiksa Asiyah berharap ia menyerah. Namun justru dalam penderitaan itu, doa Asiyah lahir begitu indah:
“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga, selamatkanlah aku dari Fir’aun dan dari orang-orang zalim.”
(QS. At-Tahrim: 11)
Dia tidak meminta dibebaskan agar bisa kembali menikmati istana. Tidak meminta kekuatan untuk melawan. Yang ia minta hanyalah: berada di Jalan Allah.
Dan itu cukup. Asiyah menjadi simbol perempuan yang Prinsipnya tidak bisa dibeli oleh dunia. Asiyah membuktikan bahwa kemuliaan tidak datang dari tempat seseorang hidup, tapi dari apa yang diperjuangkan
Jadi, jika suatu hari kamu merasa hidup tidak mudah, jika lingkunganmu tidak mendukung kebaikan, atau jika kamu merasa sendirian dalam memegang prinsip, ingatlah Asiyah.
Karena mungkin, seperti dia, kamu juga sedang ditempa untuk menjadi cahaya di tempat yang gelap. Menutup series Per-empu-an, kita kembali pada kesimpulan sederhana, figur perempuan-perempuan yang telah dibahas bukan hanya catatan sejarah atau nama dalam kitab suci. Mereka adalah cermin bagi zaman yang terus bergerak. Mereka menunjukkan bahwa keberanian, keimanan, kepedulian, dan intelektualitas bukan tentang posisi sosial, melainkan tentang pilihan.
Semoga jejak mereka tidak berhenti sebagai cerita, tetapi menjadi pengingat setiap perempuan, teruslah untuk belajar, bertumbuh, dan memberi makna bagi kehidupan.
Penulis: Pamungkas
