Ada satu bentuk pelanggaran moral yang berbahaya bukan karena kerasnya, tetapi karena halusnya: moral drift. Sebuah kejatuhan yang tidak terjadi dalam satu langkah, tetapi dalam ribuan toleransi kecil. Bukan dosa besar yang langsung menghancurkan manusia. Justru kebaikan kecil yang setiap hari dikompromikan.
Moral drift itu apa?
Moral drift adalah proses ketika jiwa perlahan kehilangan sensitivitas terhadap keburukan. Awalnya mengganggu, lama-lama biasa, akhirnya dianggap normal.
Contohnya sederhana:
• berbohong kecil “demi kenyamanan”,
• mengabaikan janji kecil karena “tidak penting”,
• menikmati konten merusak yang dulu kita jauhi,
• membiarkan kemarahan kecil hidup di dalam diri.
Tidak ada satu pun yang tampak “fatal”, sampai semuanya membentuk karakter baru.
Inilah yang terjadi pada Kaum Luth
Dalam paradigma Abrahamik, moral drift bukan sekadar fenomena psikologis.
Ia adalah proses kejatuhan spiritual yang tercatat jelas dalam sejarah para nabi. Kaum Luth tidak langsung menjadi bengkok. Al-Qur’an menjelaskan bagaimana mereka:
1. Mulai dari melanggar batas kecil,
2. menertawakan peringatan,
3. menjadikan keburukan sebagai candaan,
4. hingga akhirnya menjadikan keburukan sebagai budaya.
Normalisasi adalah akar kejatuhan moral.Moral drift selalu dimulai dari pembiasaan, bukan pemberontakan.
Mengapa moral drift berbahaya?
Karena ia merusak bukan lewat kejutan, tetapi lewat pembiasaan:
1. Ia membunuh alarm hati
Hati punya fungsi moral bawaan: fajr, insting tentang benar dan salah. Moral drift membuat alarm itu mati perlahan.
2. Ia membuat keburukan terasa masuk akal
Kita mulai membenarkan: “Semua orang juga begitu.” “Tidak seburuk itu.”
“Yang penting niatku baik.”
3. Ia merusak integritas tanpa disadari
Hancurnya integritas jarang lewat keputusan besar. Ia runtuh lewat kebiasaan yang diulang tanpa koreksi.
Lalu bagaimana mencegahnya?
Tidak ada cara instan, tapi ada pola yang diajarkan dalam kisah-kisah Abrahamik:
1. Jaga sensitivitas hati melalui kejujuran kecil
Bukan tentang tidak pernah salah; tapi tentang tidak membiasakan diri dengan yang salah.
2. Kelilingi diri dengan lingkungan yang menegur
Kaum Luth, tidak ada yang saling mengingatkan. Tanpa lingkungan yang benar, moral drift menjadi tak terhindarkan.
3. Jangan anggap kecil hal kecil
Para nabi mengajarkan: “Kesalahan kecil yang diulang-ulang lebih berbahaya daripada kesalahan besar yang disesali.”
4. Perhatikan perubahan diri dari waktu ke waktu
Cek diri: apa yang dulu tidak berani kamu lakukan, kini terasa biasa? Di situlah moral drift bekerja.
Akhirnya, ini bukan tentang larangan tapi tentang arah hidup
Moral drift adalah tentang arah, bukan tentang satu peristiwa. Kalau arahmu mengarah pada kelonggaran moral, kamu akan sampai di tempat yang keliru meski setiap langkah tampak kecil. Sebaliknya, jika arahmu terjaga, maka kesalahan kecil pun tidak menyeretmu jauh. Dalam tradisi Abrahamik, keselamatan bukan soal menjadi sempurna tetapi soal selalu kembali sebelum terlalu jauh hanyut.
Karena orang yang paling celaka bukanlah yang jatuh, melainkan yang tidak sadar bahwa ia sedang bergerak menuju jatuh.
Penulis: Abqurah
