Jejak Abraham Dari Pengorbanan Menjadi Peradaban

Abraham, atau dalam bahasa Arab dikenal sebagai Ibrahim, adalah seorang tokoh Semit yang memiliki nama asli Abram dalam bahasa Ibrani atau Avram dalam bahasa Tiberias. Nama tersebut berarti “bapak yang terpuji” atau “bapak yang dimuliakan”. Ia diperkirakan lahir di Babilonia pada tahun 2166 sebelum Masehi. Abraham wafat pada usia 175 tahun dan dimakamkan di Gua Makhpela, di samping istri pertamanya, Sarah

Nama “Abraham” berarti “bapak dari banyak suku atau bangsa.” Sementara itu, nama “Ibrahim” diyakini berasal dari kata dalam bahasa Semitik kuno di Babilonia yang berarti “menyebrang” atau “mengembara,” sehingga keturunannya pun disebut bangsa Habiru atau Ibrani, yang dimaknai sebagai bangsa nomaden.

Dari segi silsilah, terdapat perbedaan pandangan mengenai asal-usul Abraham. Dalam Kitab Kejadian, Abraham disebut sebagai putra Terah, cucu Nahor I, dan secara berturut-turut merupakan keturunan dari Serug, Rehu, Peleg, Eber, Selah, Arpakhsad, Sem (putra Nuh a.s.), dan seterusnya hingga Adam. Sementara itu, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ayah Abraham bernama Azar. Dalam Alkitab juga disebutkan bahwa Abraham memiliki dua saudara, yaitu Nahor dan Haran.

Abraham diketahui memiliki tiga istri:

  1. Sarah, yang darinya lahirlah Ishak, leluhur bangsa Israel dan nenek moyang para nabi dari Bani Israel seperti Musa dan Yesus.
  2. Hajar, yang melahirkan Ismail. Dari Ismail inilah kemudian lahir bangsa Arab, termasuk Nabi Muhammad.
  3. Ketura, yang melahirkan enam putra: Zimran, Yokshan, Medan, Midian, Ishbak, dan Shuah.

Dari para keturunan ini terlihat bahwa Abraham memiliki pengaruh besar terhadap berbagai peradaban dunia. Keturunannya telah dipilih oleh Allah untuk mengemban amanah sebagai pemimpin umat dan pembawa risalah.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah pada QS. Al-Baqarah [2]:124:

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, ‘Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.’ Dia (Ibrahim) berkata, ‘Dan (juga) dari anak cucuku?’ Allah berfirman, ‘(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.'”

Dalam Alkitab maupun Al-Qur’an, Abraham digambarkan sebagai nabi teladan yang menunjukkan ketaatan dan cintanya kepada Allah dengan sepenuh hati, bahkan melebihi kecintaannya kepada anak-anaknya, terlihat dalam QS. As-Saffat (37):99–113 dan Kejadian 22:1–19, yang mengisahkan kesediaan Abraham mengorbankan putranya atas perintah Allah. Ia juga rela memutuskan hubungan dengan ayahnya ketika ayahnya menolak bertauhid, sebagaimana tercantum dalam QS. At-Taubah (9):114. Bahkan, ia memilih berpisah dari bangsanya karena perbedaan aqidah dan menyatakan adanya permusuhan hingga mereka mau beriman kepada Allah semata. Karena keteguhan iman dan pengorbanannya, Allah memilih Abraham dan keturunannya sebagai pembawa risalah. Maka tidak heran jika ia dijuluki sebagai “Bapak Monoteisme” selain “Bapak Para Nabi.”

Hubungan Abraham dengan tiga millah samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam sangatlah erat. Ajaran Abraham menjadi akar dari ketiga ajaran besar tersebut.

  • Dalam tradisi Yahudi, Abraham dikenal sebagai penerima perjanjian (kovenan) asli antara orang Ibrani dan Allah.
  • Dalam Nasrani, ia dipandang sebagai leluhur agung yang menerima perjanjian formatif pertama yang menjadi dasar janji Allah kepada Yesus.
  • Dalam Islam, Abraham adalah seorang hanif(monoteis murni) yang mengikuti sistem yang lurus (Din al-Qayyim), dan risalahnya dilanjutkan oleh Nabi Muhammad (QS. Al-An’am [6]:161).

Ketiga tradisi tersebut juga mengenal Abraham sebagai “sahabat Allah”, sebagaimana terlihat dalam ayat-ayat berikut:

“Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi.”(Yesaya 41:8)

“Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” (Yakobus 2:23)

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.” (QS. An-Nisa [4]:125)

Penjelasan demikian menegaskan bahwa setiap nabi yang diutus setelah Abraham sejatinya membawa perintah yang sama, yaitu tauhid, karena semuanya berakar dari ajaran yang dibawa oleh Abraham. Sosok Abraham memang menjadi figur sentral dalam semua millah samawi yang ada hingga saat ini. Ia menjadi tokoh istimewa di mata Allah bukan tanpa sebab, melainkan karena ia telah melalui berbagai ujian berat, mulai dari pengorbanan terhadap putranya, perpisahan dengan keluarga dan bangsanya, sebagai bukti dari keimanan dan ketaatannya yang tulus hanya kepada Allah. Keteladanannya ini menjadi contoh nyata bagaimana menjaga idealisme dalam beragama dengan kokoh, tanpa tercampuri oleh ideologi-ideologi lain.

 

Penulis: azaria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *