Hari ini, kita hidup di dunia yang penuh pilihan. Sejak bangun pagi, layar ponsel kita sudah dipenuhi kata-kata motivasi:
“Be whoever you want to be.” “Create yourself.” “Don’t limit your dreams.” Kedengarannya indah. Seolah kita bebas menjelma apa pun: influencer sukses, pebisnis muda, aktivis sosial, atau sekadar orang yang terlihat bahagia di Instagram atau TikTok.
Dunia modern memberi janji: kamu bisa jadi apa saja. Tapi pertanyaannya: setelah mencoba semua topeng itu, apakah kita sungguh bahagia? Banyak anak muda hari ini justru kelelahan. Kita merasa harus jadi “versi terbaik” menurut standar dunia, tapi lupa bertanya:
siapa sebenarnya aku? Kenapa aku ada di sini? Apakah tujuanku sekadar memenuhi ekspektasi orang lain?
Al-Qur’an memberi jawaban yang sederhana tapi dalam. Saat dunia berkata, “jadilah siapa saja,” Allah berkata:
“Jadilah dirimu yang sejati.” Identitas yang Tidak Bisa Dibeli Allah menciptakan manusia dengan fitrah, sebuah inti diri yang murni. Dalam bahasa Qur’an, disebut qalbun salim, qalbu yang bersih. Itulah dirimu yang sejati, sebelum tercemar oleh ambisi semu dan perbandingan sosial. Kamu boleh mengubah gaya, karier, atau citra media sosialmu, tapi tidak ada yang bisa menggantikan fitrah yang Allah titipkan dalam dirimu. Identitas sejati itu bukan “aku ingin terlihat keren,” tapi “aku ingin jujur dengan diriku di hadapan Allah.” Mengapa Kita Lelah? Ketika kita berusaha menjadi “apa saja” menurut dunia, kita terjebak dalam perlombaan tanpa garis finish. Ada yang sibuk mengejar validasi, ada yang haus like dan followers, ada yang memaksakan standar sukses yang sebenarnya bukan miliknya.
Rasa lelah itu datang karena kita menjauh dari pusat diri. Kita lupa bahwa Allah sudah mendesain kita dengan unik. “Dia-lah yang membentuk kalian dalam rahim sesuai kehendak-Nya.” (QS. Ali Imran: 6) Ayat ini seolah berbisik: kamu tidak diciptakan untuk menyalin orang lain. Kamu diciptakan untuk menjadi versi yang Allah maksudkan sejak awal. Jadi, Siapa Diriku yang Sejati? Dirimu yang sejati bukan sekadar profesi atau label sosial. Dirimu yang sejati adalah ketika niat, kata, dan perbuatanmu selaras dengan fitrah yang Allah tanamkan: mengabdi-Nya, menebar kebenaran, dan menjaga bumi.
Itulah kenapa dalam Qur’an, Allah menggunakan kata “kun” (jadilah). Saat Allah berkata kepada sesuatu, “Kun fayakun” (jadilah, maka jadilah ia), itu bukan sekadar perintah eksistensi. Itu adalah panggilan untuk setiap kita: jadilah sesuai maksud Penciptaanmu. Penutup Mungkin dunia akan terus berteriak:
“Jadilah apa saja!” Tapi pada akhirnya, semua pilihan itu bisa membuat kita kehilangan arah. Hanya ada satu suara yang membawa ketenangan: suara Allah yang memanggil kita untuk kembali pada diri yang sejati.
Jadi, sebelum sibuk mencari siapa yang harus kita perankan di panggung dunia, mari kita bertanya: sudahkah aku menjadi diriku yang diciptakan Allah?
Penulis : Abqurah
