Dalam sejarah Islam, nama Khadijah binti Khuwailid selalu disebut dengan penuh hormat dan cinta. Dalam dirinya berpadu kecerdasan, keanggunan, dan kekuatan spiritual yang menjadikannya tiang pertama berdirinya dakwah di Zaman Rasulullah Muhammad di tengah gelombang penolakan masyarakat Makkah. Khadijah lahir dari keluarga terpandang suku Quraisy, salah satu kabilah paling berpengaruh di Makkah. Sejak muda, dia telah dikenal sebagai perempuan cerdas, mandiri, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Dia menjalankan bisnis besar lintas negeri, dari Yaman hingga Syam, dan dikenal luas karena kejujurannya dalam berdagang. Gelar Ath-Thahirah (yang suci) disematkan kepadanya bukan hanya karena kehormatannya, tetapi karena integritas dan kemurnian moral yang dia tunjukkan di dunia perdagangan yang kala itu didominasi laki-laki.
Dalam menjalankan usahanya, Khadijah sering mempercayakan kafilah dagang kepada para wakilnya. Di antara mereka ada seorang pemuda bernama Muhammad bin Abdullah, yang dikenal jujur dan amanah, bergelar Al-Amin. Melihat kepribadian dan kejujuran Muhammad, Khadijah menaruh rasa kagum. Dia melihat dalam diri pemuda itu sesuatu yang berbeda, ketenangan, kebersihan pikiran, dan visi hidup yang melampaui urusan duniawi. Dari kekaguman itu lahir cinta, dan akhirnya mereka menikah dalam sebuah pernikahan yang menjadi titik awal sejarah besar umat manusia.
Sebagai istri, Khadijah bukan sekadar pasangan hidup, melainkan partner sejati dalam misi kenabian. Ketika wahyu pertama turun di Gua Hira, Nabi Muhammad pulang dengan tubuh gemetar dan qolbu yang bergetar karena pengalaman yang belum pernah ia alami sebelumnya. Khadijah-lah yang menenangkannya dengan lembut, meyakinkannya bahwa Allah tidak akan meninggalkannya. Dia kemudian membawa suaminya menemui sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang ahli kitab yang menegaskan bahwa wahyu yang datang adalah tanda kerasulan.
Ketika masyarakat Quraisy menolak risalah Nabi, mengejek, bahkan memboikot Bani Hasyim secara ekonomi dan sosial, Khadijah tetap berdiri di sisi suaminya. Dia menyerahkan seluruh hartanya untuk menopang perjuangan Islam yang masih muda itu. Dalam penderitaan dan kesempitan, dia tidak pernah mengeluh. Khadijah percaya bahwa kebenaran yang datang dari Allah pasti akan menang pada waktunya. Khadijah adalah lambang keseimbangan antara spiritualitas dan intelektualitas, antara kasih dan ketegasan. Dari Khadijah, dunia belajar bahwa kekuatan perempuan tidak hanya lahir dari posisi, tetapi dari keberanian untuk beriman pada kebenaran, bahkan ketika dunia menentangnya. Khadijah adalah saksi bahwa cinta yang tulus, iman yang kokoh, dan pengorbanan tanpa pamrih mampu mengubah arah sejarah. Dalam setiap langkah dakwah Rasulullah, jejak Khadijah selalu ada, sebagai cahaya yang mendampingi dan menerangi perjuangan Rasulullah Muhammad.
Penulis: Amerta
