Zulaikha dan Yusuf “Godaan Kekuasaan terhadap utusan Allah”

Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Qur’an sering kali disalahpahami hanya sebagai kisah romantis tentang godaan seorang wanita terhadap lelaki tampan. Padahal, di balik kisah tersebut tersimpan makna yang jauh lebih dalam. Setiap kisah para rasul yang diabadikan dalam kitab suci sejatinya menggambarkan perjuangan mereka dalam menegakkan hukum Allah. Demikian pula kisah Nabi Yusuf, yang menjadi simbol perjuangan menegakkan sistem Ilahi di tengah dominasi sistem batil buatan manusia, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Asy-Syura [42]: 13.

    Peristiwa di istana Al-Aziz bukan sekadar drama personal, melainkan perumpamaan ideologis antara sistem Allah dan sistem Mesir yang batil. Godaan Zulaikha terhadap Yusuf menggambarkan godaan kekuasaan yaitu ajakan untuk berkompromi dan tunduk kepada sistem duniawi. Ketika Al-Qur’an menyebut Zulaikha “menutup pintu-pintu” dan berkata, “Marilah ke sini,” (QS. Yusuf: 23), hal tersebut bukan hanya tindakan fisik, tetapi simbol dari upaya sistem batil menutup jalan kebenaran dan menggoda utusan Allah agar berpihak pada mereka.

Namun Yusuf menolak dengan tegas:

“Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23)

    Ungkapan ini mencerminkan keteguhan Nabi Yusuf yang tidak mau menukar kebenaran demi kedudukan duniawi. Yusuf tahu bahwa kekuasaan Mesir sebesar apa pun tidak dapat menandingi kekuatan sistem Ilahi. Menerima ajakan Zulaikha berarti mengkhianati amanah Allah dan merusak prinsip keadilan yang diperjuangkannya. Ketika kisah berlanjut, “perempuan-perempuan” yang mengagumi Yusuf (QS. Yusuf: 31) melambangkan para pendukung sistem Mesir yang akhirnya kagum pada kebenaran yang dibawa Yusuf. Hingga akhirnya, Zulaikha sendiri mengakui:

“Sekarang telah nyata kebenaran itu; akulah yang menggoda dia, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar.” (QS. Yusuf: 51)

   Pengakuan tersebut menandai kekalahan sistem manusia di hadapan kebenaran Ilahi. Yusuf menang bukan karena memperoleh tahta, tetapi karena berhasil membuktikan bahwa sistem Allah-lah yang paling adil dan universal. 

 

Penulis: Azaria

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *