Bunda Maria adalah salah satu figur perempuan paling kuat dalam sejarah spiritual manusia. Dalam Al-Qur’an, namanya disebut, sebuah kehormatan yang sangat jarang diberikan kepada tokoh perempuan bahkan sebuah surah khusus dinamakan “Maryam” (QS. Maryam). Sementara dalam Injil, terutama Lukas pasal 1, Bunda Maria digambarkan sebagai perempuan yang matang secara spiritual, penuh ketenangan, kesadaran, dan kejernihan pikiran.
Narasi tentang sosok Bunda Maria tidak bertumpu pada detail biologis atau aspek-aspek fisik yang sering dibaca secara literal. Yang menonjol justru kualitas pemikirannya, yaitu bagaimana ia membentuk karakter, menjaga integritas, dan menanamkan nilai-nilai kebenaran kepada putranya. Dalam QS. Ali ‘Imran: 42–43, Bunda Maria digambarkan sebagai sosok yang “dipilih, disucikan, dan diperintahkan untuk berdiri teguh.” Ungkapan “berdiri” dan “bertunduk” dipahami bukan hanya sebagai perintah spiritual, tetapi simbol disiplin diri, penguasaan batin, dan integritas moral yang ketiganya merupakan bagian dari fondasi utama seorang pendidik.
Bunda Maria juga menunjukkan keteguhan luar biasa dalam menghadapi cemoohan, stigma, dan pandangan negatif dari orang-orang pada saat itu. Bunda Maria tetap berdiri kukuh karena berpegang pada kebenaran, yang menunjukkan bahwa pendidik sejati adalah mereka yang mampu menjaga prinsip dan keteguhan moral meski dinilai, disalahpahami, atau diragukan oleh lingkungan sekitarnya.
Dalam QS. Maryam: 26, Bunda Maria diperintahkan untuk menjaga ketenangan batin. Hal tersebut menunjukkan pentingnya mengontrol emosi dan stabilitas psikologis bagi seorang pembina spiritual maupun moral. Dalam Injil Lukas 2:19, Bunda Maria digambarkan “menyimpan segala perkara itu dan merenungkannya.” Sikap tersebut menunjukkan pola pendidikan reflektif, yang berarti tidak reaktif, tidak impulsif, tetapi penuh perenungan.
Bunda Maria menggeser asumsi bahwa pendidik moral selalu harus laki-laki. Kapasitas membimbing tidak datang dari jenis kelamin, tetapi dari kedewasaan emosi, kebijaksanaan, dan integritas. Namun bukan berarti argumen ini pembenaran untuk menyeragamkan gender, karena faktanya, secara biologis dan psikologis, laki-laki dan perempuan memang memiliki kecenderungan fungsi yang berbeda; laki-laki lebih dominan pada penalaran analitis, sedangkan perempuan secara umum memiliki kelebihan pada empati, sensitivitas sosial, dan intuisi emosional. Perbedaan tersebut bukan pertentangan, melainkan saling memiliki fungsi yang sudah sesuai dengan fitrahnya. Dan Bunda Maria menunjukkan bagaimana potensi perempuan dapat menjadi pusat pembentukan moral generasi baru.
Bunda Maria menjadi inspirasi bagi perempuan, “berpendidikan” adalah kewajiban, bukan sekadar akses sosial karena perempuan memegang peran penting sebagai pembentuk karakter generasi, karena itu, perempuan membutuhkan wawasan yang luas, ketajaman berpikir, pengendalian emosi, dan kebijaksanaan spiritual.
Ketika berbicara tentang “berpendidikan”, penting untuk tidak menerjemahkannya secara letter by letter, seolah-olah pendidikan hanya berarti sebuah rutinitas. Jika maknanya sesempit itu, maka hampir semua manusia sudah “berpendidikan” sejak tingkat dasar. Namun jelas bukan itu yang dimaksud dalam teladan Bunda Maria. Untuk memahami konsep “pendidikan” melalui teladan Bunda Maria, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih luas dan lebih dalam. Pendidikan bukan sekadar apa yang seseorang baca, hafal, atau dengar, melainkan bagaimana mengolah pengalaman itu menjadi kebijaksanaan. Berpendidikan bukan hanya tentang apa yang kamu pelajari, tetapi tentang bagaimana ilmu itu membentuk dirimu.
Tanpa menyebut bentuk-bentuk belajar tertentu, Bunda Maria mengajarkan bahwa:
• pendidikan bukan sekadar memahami sesuatu, tetapi memahami diri ketika berhadapan dengan sesuatu,
• pendidikan bukan sekadar mengenal ajaran, tetapi menjadikan diri sebagai cermin, pantulan, dan implementasi diri,
• pendidikan bukan sekadar mencari kebenaran, tetapi menjadi bagian darinya.
Ilmu yang tidak mengubah cara berpikir dan cara bersikap hanyalah pengetahuan, bukan pendidikan. Seseorang mungkin merasa dirinya sudah “cukup” karena memahami banyak hal, tetapi kedewasaan tidak lahir dari apa yang diketahui, melainkan dari bagaimana seseorang memaknai apa yang ia ketahui. Bunda Maria hadir sebagai contoh bahwa sebagai perempuan, sebagai pendidik, tidak bisa direduksi menjadi satu bentuk tunggal. Pendidikan adalah ruang yang terus berkembang, tempat seseorang belajar mengenali potensi dirinya sebelum ia mencoba membimbing dan menyampaikan kepada orang di sekitarnya.
Dan pada akhirnya, pendidik sejati adalah mereka yang, seperti Bunda Maria, mampu menjaga antara ilmu, karakter, dan kebijaksanaan. Perempuan akan selalu menjadi pendidik bagi generasi berikutnya.
Satu kutipan nilai universal yang diangkat Nabi Hosea, “Umat-Ku binasa karena tidak berpengetahuan” (Hosea 4:6), kita belajar bahwa kehancuran suatu umat bukan datang dari kekurangan kekuatan, tetapi dari kekosongan akan ilmu. Ayat ini melampaui zaman dan menunjukkan bahwa siapa pun yang ingin mendidik, seperti Bunda Maria, harus terlebih dahulu mampu membangun pikiran yang jernih, karena pikiran yang jernih menuntun pada tindakan yang benar.
Pelajaran yang diberikan Bunda Maria bukan hanya tentang ilmu atau kebijaksanaan, tetapi tentang kemampuan untuk tetap tenang ketika kata-kata miring diarahkan kepadanya, kemampuan untuk tetap berjalan ketika langkahnya dipertanyakan, kemampuan untuk tetap memegang kebenaran. Sebab kebenaran tidak selalu diterima, tetapi tetap harus di perjuangkan.
Penulis: Reinee
