Ulah Tangan Manusia

Sampai kapan kita terus menyangkal bahwa semua ini karena ulah manusia sendiri?


Banjir dan longsor besar di Sumatra minggu ini bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem.
Ia adalah cermin. Ia adalah alarm. Ia adalah konsekuensi dari keserakahan kolektif yang kita biarkan tumbuh tanpa batas.

Kita hidup dalam masa ketika keegoisan manusia lebih kuat daripada akal sehat, dan kebijakan politik lebih tunduk pada nafsu segelintir daripada keselamatan seluruh masyarakat. Hutan ditebang, sungai disempitkan, lereng digunduli, ruang hidup dilanggar, semua demi kepentingan jangka pendek yang dibungkus jargon pembangunan.

Padahal Tuhan sudah mengingatkan:

 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah memperlihatkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.”
(QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini bukan metafora. Ini penjelasan langsung.

Kerusakan itu tampak dan kita sedang berdiri tepat di tengah-tengahnya.

 

1. Ketika Pedoman Hidup Direduksi Menjadi Mesin Pahala

Di sisi lain, kitab suci yang semestinya menjadi petunjuk hidup direduksi menjadi sekadar mesin pencetak pahala. Kita beribadah, tetapi lupa bahwa ibadah itu seharusnya menghasilkan etika sosial, keberadaban, keberanian menegakkan keadilan, dan keberpihakan pada kemaslahatan semesta.

Manusia merasa bebas menumpuk pahala sambil tetap mempertahankan sistem ekonomi dan politik yang merusak. Seolah Tuhan hadir hanya di masjid dan tempat ibadah bukan di ruang-ruang pengambilan keputusan, bukan di pasar, bukan di rapat perencanaan tata ruang, bukan di parlemen.

Padahal agama tak pernah mengajarkan pemisahan itu. Kehidupan adalah satu kesatuan: spiritual, politik, sosial, ekologis.

Karena itu jangan heran jika kerusakan ekologis adalah cermin kerusakan moral dan politik.

 

2. Kita Terus Merusak, Tapi Dana Penanggulangan Justru Dipangkas

Di tengah kerapuhan ekologi yang semakin nyata, hutan yang menipis, air yang tak lagi punya ruang, sungai yang dikepung bangunan, manusia malah berlaku seolah ia kebal dari akibat perbuatannya.

Lebih ironis lagi:

 Justru saat bencana semakin sering terjadi, banyak negara dan daerah memotong anggaran mitigasi, adaptasi, dan penanggulangan bencana.

Seakan-akan kita bisa terus merusak tanpa pernah menanggung resiko. Seakan-akan banjir, longsor, kebakaran hutan tidak akan datang lagi. Seakan-akan alam bisa terus bersabar.

Padahal memotong anggaran keselamatan publik sama dengan memotong masa depan.
Ini bukan sekadar salah kelola fiskal, ini tanda bahwa kita belum memahami bahwa bencana adalah akibat, bukan kebetulan.

Ketika alam melemah, kita juga melemah.
Ketika alam dipangkas, masa depan kita ikut terpangkas.

 

3. Jangan Lagi Bersembunyi di Balik Kalimat “Ini Ujian Allah” atau “Cuaca Ekstrem”

Benar bahwa cuaca ekstrem adalah bagian dari gejala global.

Namun tidak jujur jika kita mengabaikan fakta bahwa:

lereng longsor karena hutan telah habis, banjir bandang muncul karena air kehilangan ruang resap, sungai meluap karena disharmoni tata ruang, permukiman runtuh karena kebijakan yang membiarkan eksploitasi liar.

Kita sering memakai kalimat religius untuk menghindari tanggung jawab moral:

“Ini takdir… ini bencana dari Allah.”

Padahal kitab suci juga berkata:

“Itu akibat ulah tangan manusia…”

Bencana bukan sekadar “peristiwa menyedihkan” seperti definisi kamus.
Bencana adalah reaksi, respon, mekanisme korektif.

4. Bencana sebagai “Siklus Alam”: Saat Alam Berusaha Menyeimbangkan Diri

Alam tidak pernah jahat.
Alam hanya menyeimbangkan diri ketika ia dirusak.

Saat keseimbangan itu terganggu, alam bergerak, kadang lembut, kadang dalam bentuk banjir, longsor, angin, atau gelombang.

Ini bukan metafisika.
Ini hukum paling dasar dari ekologi:

  • Jika kita merusak hutan, air mencari jalannya sendiri.
  • Jika kita mengurung sungai, sungai akan membebaskan dirinya.
  • Jika kita menggunduli pegunungan, tanah akan runtuh.


Inilah yang disebut manusia sebagai “bencana”,
padahal sejatinya alam sedang menagih kembali keselarasan yang kita langgar.

 

5. Apakah Kita Termasuk Kaum yang Berfikir?

  • Tuhan sudah memberikan tanda-tanda.
  • Alam sudah menyalakan alarmnya.
  • Ayat-ayat sudah jelas.

Pertanyaannya:

Apakah kita melihatnya sebagai tanda—atau kita tetap tidur?

Apakah kita akan terus memisahkan politik dari moralitas, ekonomi dari keberlanjutan, agama dari kehidupan nyata, dan kemudian berharap tragedi berhenti dengan doa saja?

Kitab suci berkali-kali bertanya:

“Tidakkah kalian berfikir?”

Karena akal adalah alat untuk membaca tanda-tanda.
Etika adalah alat untuk memperbaiki.
Politik yang adil adalah alat untuk mencegah kerusakan berulang.


Jangan Terlambat

Semoga kita tidak menjadi kaum yang terbangun ketika kehancuran sudah meluas.
Semoga kita tidak menjadi umat yang menganggap bencana ini sekadar musibah pasif, bukan konsekuensi aktif dari pilihan kolektif kita.

Sumatra hari ini bukan hanya tragedi, ia adalah peringatan keras.

Jika kita tetap melakukan hal yang sama, jangan kaget jika alam kembali menyeimbangkan dirinya dengan cara yang lebih besar dan lebih menyakitkan.

Karena alam tidak pernah salah.
Yang salah adalah kita yang melanggar batas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *