Al-Qur’an Al-Karim adalah Kalamullah, firman Allah SWT yang diturunkan sebagai cahaya (nur) yang menerangi kehidupan, petunjuk (hudan), penjelas bagi petunjuk tersebut (bayyinah), serta pembeda antara yang haq dan yang batil (furqan). Seluruh fungsi ini tidak berhenti pada tataran bacaan, tetapi harus terwujud dalam realitas kehidupan manusia.
“Hai manusia, sungguh telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, dan Kami telah menurunkan kepadamu cahaya yang terang-benderang (Al-Qur’an).” (QS. An-Nisa: 174)
“(Al Qur’an) sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan tentang petunjuk itu, serta pembeda (antara yang benar dan yang salah).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Namun, realitanya hari ini sering kali terjebak pada interaksi dengan Al-Qur’an sebatas ritual individual: dibaca untuk pahala, dihafal sebagai prestasi, atau dikaji secara akademik tanpa melahirkan perubahan hidup. Padahal, Al-Qur’an adalah ruh yang menghidupkan dan manhaj yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Ketika ia diamalkan secara konsisten dan total, Al-Qur’an akan menjadi motor penggerak dalam menegakkan Sistem-Nya.
Istilah “ruh” sangat tepat, karena ia berarti energi yang menghidupkan, menggerakkan, dan menjaga semangat perjuangan agar tidak kering dan kehilangan arah. Tanpa ruh ini, gerakan akan menjadi tanpa makna, mudah goyah, dan rentan menyimpang. Maka, mari kita perhatikan bagaimana Al-Qur’an, melalui kerangka-kerangka fundamental di dalamnya, mampu mengantarkan umat manusia kepada keberkahan, kesejahteraan, dan rahmat bagi seluruh alam.
1. AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER AQIDAH DAN IDEOLOGI PERJUANGAN
Setiap perjuangan membutuhkan fondasi pemikiran (ideologi) yang kokoh. Tanpa landasan ini, seorang aktivis akan mudah ragu, bimbang, bahkan berhenti. Al-Qur’an memberikan basis ideologis yang jelas dan tidak berubah oleh zaman.
a. Tauhid sebagai Poros Utama
Tauhid adalah inti dari seluruh ayat Al-Qur’an. Ia tidak hanya konsep teologis, tetapi merupakan prinsip pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Tauhid menolak dominasi aturan, sistem, dan hukum manusia yang bertentangan dengan hukum Allah.
“Sungguh, Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul (yang menyerukan): ‘Abdilah Allah dan jauhilah thaghut.”(QS. An-Nahl: 36)
Tauhid berarti memenangkan hukum Allah atas seluruh hukum buatan manusia.
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah… Hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah?” (QS. Al-Ma’idah: 49-50)
b. Penegasan Tujuan Hidup
Al-Qur’an menetapkan visi hidup manusia: beribadah kepada Allah dalam makna yang luas dan universal. Maka setiap langkah pejuang memiliki arah, makna, dan nilai ibadah.
c. Bersih dari Kemusyrikan
Tauhid tidak akan sempurna tanpa meninggalkan syirik.
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” (QS. At-Taubah: 28)
2. AL-QUR’AN SEBAGAI PETUNJUK DAN PEMETAAN MEDAN JUANG
Al-Qur’an bukan kitab teori yang menggantung. Ia sangat realistis dalam menggambarkan bentangan jalan perjuangan antara kebenaran dan kebatilan.
a. Mengenali Musuh dan Strategi Mereka
Musuh perjuangan dijelaskan secara jelas: setan, orang kafir, munafik, dan zalim. Bahkan Al-Qur’an mengungkap strategi mereka, propaganda mereka, dan pola perlawanan terhadap para nabi sepanjang sejarah.
“Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 98)
Allah memperingatkan agar tidak tunduk atau takut pada tekanan mereka.
“Janganlah engkau ikuti orang-orang kafir dan munafik. Jangan hiraukan gangguan mereka, dan bertawakkallah kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 48)
b. Fase Perjuangan
Surah Makkiyah dan Madaniyah menunjukkan strategi berbeda sesuai konteks.
3. AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER RUH DAN PASOKAN SPIRITUAL
Jalan perjuangan melelahkan. Karena itu Allah memberikan energi spiritual melalui ayat-ayat motivasi, janji kemenangan, serta kisah keteguhan para nabi.
“Mereka tidak lemah dan tidak menyerah kepada musuh.” (QS. Ali Imran: 146)
Allah memulai dengan perjanjian (akad) antara manusia dan Rabb-nya, sebelum menurunkan pertolongan-Nya.
“Mereka tidak mendapat syafaat kecuali orang yang telah memiliki perjanjian dengan Allah.”
(QS. Maryam: 87)
Janji Allah akan kemenangan adalah energi yang menghidupkan langkah perjuangan.
4. AL-QUR’AN SEBAGAI SUMBER AKHLAK DAN KARAKTER PEJUANG
Perjuangan bukan hanya tentang strategi, tetapi juga tentang kualitas jiwa.
“Janganlah kebencian suatu kaum membuat kalian berlaku tidak adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Karena itu Al-Qur’an membentuk akhlak, disiplin, keteguhan, kesabaran, tawakal, keikhlasan, dan struktur perjuangan sehingga perjuangan tetap berada di atas rel wahyu.
5. AL-QUR’AN SEBAGAI BLUEPRINT PERADABAN
Tujuan akhir perjuangan bukan sekadar aktivitas, tetapi menjadi manusia yang berlandaskan wahyu. Al-Qur’an mengatur hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, akhlak, hingga etika ilmu, semua untuk melahirkan umat terbaik.
“Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah kemungkaran.” (QS. Ali Imran: 104)
Larangan riba, perintah zakat, keadilan hukum, prioritas ilmu, serta visi bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, semua itu menjadikan Al-Qur’an blueprint peradaban terbaik yang pernah ada.
Penulis: PPR
