Kita hidup di generasi tap to pay, scan QRIS, face ID buka pintu hidup. Segalanya butuh kode unik untuk membedakan satu orang dari yang lain. Saat beli kopi tinggal scan, parkiran tinggal tap, uang pun hanya sebaris pola digital.
Lalu ada fakta menarik dan agak mind-blowing:
Manusia sebenarnya sudah membawa “kode unik” bawaan lahir.
Tanpa login, tanpa daftar akun, tanpa update sistem.
Namanya sidik jari.
Dan yang membuat ini semakin menarik bukan hanya sisi biologinya, tapi bagaimana Al-Qur’an menyebut ujung jari secara spesifik pada masa ketika belum ada ilmu kriminal forensik, biometrik, apalagi sensor smartphone.
Ujung Jari dalam Al-Qur’an: Detail yang Tidak Sembarangan Pada surah Al-Qiyamah terdapat dialog retoris:
“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya?”
(QS. Al-Qiyamah 75:3)
Lalu ayat berikutnya datang seperti punching line:
“Bahkan Kami mampu menyusun (kembali) sampai ujung jarinya.”
(75:4)
Mengapa ujung jari?
Bukan mata, bukan otak, bukan hati.
Bila kita tarik ke konteks historis: belum ada pengetahuan mengenai keunikan sidik jari pada masa itu. Tidak ada istilah biometric identity, ridge pattern, core & delta, atau fingerprint classification.
Namun teksnya memilih detail paling kecil, paling sepele, tapi ternyata paling unik pada diri manusia. Seolah-olah ayat itu berkata:
“Perhatikan yang tampak sederhana. Ada ilmu yang belum kamu lihat.”
Sains Baru Menyusul Belakangan Berabad-abad setelah ayat itu turun, para ilmuwan menemukan bahwa:
• Tidak ada dua manusia yang memiliki sidik jari sama
• Kembar identik pun tetap berbeda
• Polanya dibentuk sejak dalam kandungan & tidak berubah hingga mati
• Ada struktur rumit berupa ridge endings, bifurcation, loops, whorls, pores
• Pola ini menjadi dasar keamanan modern mulai dari HP sampai imigrasi
Hari ini, teknologi mengandalkan sidik jari seperti password biologis:
📱 membuka ponsel
🛂 sistem keamanan bandara
🕵️ forensik kriminal
🔐 otentikasi digital
💳 pembayaran biometrik
Jika teknologi butuh kode unik untuk membedakan manusia,
Tuhan sudah menanamkan satu di tanganmu jauh sebelum itu dibutuhkan.
Al-Qur’an dan Keilmuan: Sebuah Undangan Berpikir Yang membuatnya terasa akademis bukan hanya fakta ilmiahnya, tetapi cara ayat itu mengarahkan perhatian manusia ke detail kecil yang ternyata fundamental.
Ini bukan klaim bahwa Al-Qur’an adalah buku sains, bukan.
Tetapi ia berdialog dengan akal, menstimulasi pikiran, dan mengundang manusia untuk meneliti.
• Kita meneliti pola sidik jari dengan mikroskop.
• Tuhan menciptakannya tanpa prototype.
• Kita membutuhkan data center.
• Tuhan menyimpannya dalam ruas kecil jari manusia.
Ada nuansa kebesaran di sana yang baru kita sadari seiring perkembangan ilmu.
Ilmu bertumbuh mengejar sesuatuyang telah eksis sejak awal penciptaan.
Penutup: Ilmu yang Mengantar Kita Kagum
Sidik jari hanya secuil dari tubuh, tapi menyimpan kisah besar tentang keunikan manusia dan keluasan ilmu Tuhan.Tidak semua kebesaran hadir dalam bentuk gunung tinggi atau laut luas.
Kadang ia setia menempel di ujung jari, ikut kita mengetik, makan, membayar kopi, atau sekadar scroll layar ini.
Kita baru meneliti.Kita baru paham sebagian. Sementara yang mencipta telah mengetahui keseluruhannya sejak awal. Dan itu indah.
