Apakah Ini Kejahatan Paling Nyaman di Dunia?

Terkadang, pelanggaran moral tidak tumbuh karena banyaknya orang yang berniat berbuat salah, tetapi karena begitu banyak individu memilih diam saat pelanggaran itu terjadi. Kepasifan ini perlahan menciptakan ruang di mana kesalahan tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan menjadi sesuatu yang biasa dan dapat diterima. Ketika orang berhenti menegur, berhenti mengingatkan, dan berhenti menunjukkan batas antara benar dan salah, maka penyimpangan itu perlahan berubah menjadi kebiasaan sosial. Pada akhirnya, masyarakat mulai menganggap pelanggaran tersebut sebagai hal wajar, sebuah proses yang dikenal sebagai normalisasi pelanggaran. Pada titik ini, tampaklah buah dari the sins of silence: kejahatan yang tumbuh karena kebenaran dibiarkan sunyi.

    Istilah the sins of silence merujuk pada kesalahan moral ketika seseorang tidak melakukan kejahatan secara langsung, tetapi ia memilih diam pada saat seharusnya ia berbicara demi kebenaran. Diam dalam konteks ini bukanlah sikap netral, melainkan bentuk pembiaran terhadap pelanggaran, kejahatan, ketidakadilan, atau penyimpangan. Akibatnya, pelaku maupun korban dapat menganggap perbuatan tersebut sebagai hal yang normal. Ketika seseorang mengetahui kebenaran namun tetap tidak melakukan apa-apa, maka diam tersebut berubah menjadi partisipasi pasif. Dengan demikian, the sins of silence menegaskan bahwa diam pun bisa menjadikan seseorang sebagai pelanggar moral.

    Diam yang terlalu panjang dapat menyebabkan reduksi empati pada diri seseorang. Apa yang dulu terasa salah kini tidak lagi mengusik nurani. Masyarakat kehilangan sensitivitas moralnya sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang terlalu lama berada dalam gelap hingga lupa bagaimana rasanya cahaya. The sins of silence membuat manusia tidak lagi peka terhadap penderitaan, ketidakadilan, maupun penyimpangan. Lama-kelamaan bukan hanya perilaku salah yang diterima, tetapi sikap masa bodoh pun menjadi budaya. Ketika perasaan tidak lagi tersentuh oleh kesalahan, di situlah kemunduran peradaban bermula.

    Setiap kali kejahatan tidak dilawan, pelakunya merasa lebih berani. Diamnya masyarakat menjadi validasi sosial bahwa tindakannya aman dan tidak berisiko. Bahaya laten dari the sins of silence bukan hanya karena ia membiarkan keburukan terus ada, tetapi karena ia memperkuat sumber keburukan itu sendiri. Ketika tidak ada risiko sosial, moral, maupun hukum, pelaku akan memperluas batas kejahatannya. Pada akhirnya, korban semakin banyak, sementara masyarakat semakin tidak berdaya menghadapi kekuasaan yang tumbuh dari keheningan kolektif.

    Jika melihat kondisi ini, jelas bahwa the sins of silence tidak bisa dianggap remeh. Diam saja ternyata dapat menciptakan efek domino yang besar. Lalu bagaimana pandangan Al-Qur’an terkait fenomena ini?

    Pertama, kita perlu memahami alasan mengapa seseorang dapat terjebak dalam sikap diam. Faktor penyebabnya beragam, tetapi yang paling mendasar adalah hawa nafsu yang membuat seseorang memilih keamanan dan kenyamanan pribadi. Pola hidup yang tunduk pada hawa nafsu tidak pernah diridai Allah, sebagaimana tertulis dalam QS. 30:29

“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.”

    Selain itu, Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk menyeru kepada jalan yang benar, bukan memilih diam ketika melihat sesuatu yang salah. Hal ini ditegaskan dalam QS. 16:125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.”

    Ayat ini mengingatkan bahwa diam bukanlah pilihan ketika melihat pelanggaran. Bahkan, Al-Qur’an secara khusus menegaskan bahwa orang yang menyembunyikan petunjuk kebenaran akan mendapatkan laknat, sebagaimana dalam QS. 2:159:

“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.”

    Dari ayat-ayat ini menjadi jelas bahwa diam bukan jawaban atas pelanggaran yang ada di muka bumi. Ini menjadi pelajaran bagi kita bahwa kita harus proaktif menyampaikan kebenaran, bukan pasif dan berpura-pura tidak melihat. Sebab, diam yang salah bukan hanya membiarkan kejahatan, tetapi turut menumbuhkannya.

 

Penulis: AAA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *