“Sekian lama diwariskan sebagai tradisi, benarkah puasa hanya milik orang Islam? Masih relevankah hari ini?”
dengan isi Puasa dalam Islam sering dipahami sebagai ibadah khas Ramadan, seolah ia lahir bersamaan dengan turunnya syariat kepada Nabi Muhammad. Padahal, praktik menahan diri sudah menjadi tradisi spiritual umat-umat sebelum Islam. Yang dibawa oleh Rasulullah bukanlah sekadar bentuk baru dari ritual lama, melainkan penataan ulang orientasinya. Puasa ditempatkan kembali sebagai jalan untuk meneguhkan tauhid, bukan hanya kebiasaan religius yang dijalankan tanpa arah yang jelas. Sejak awal, risalah para nabi berputar pada satu poros:
membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Ketika manusia mulai tunduk pada dorongan hawa nafsu, kekuasaan, atau tekanan sosial, di situlah tauhid mulai tergeser. Agama mungkin masih hadir dalam simbol dan rutinitas, tetapi kehilangan daya hidup yang seharusnya menuntun manusia.
Karena itu, kehadiran para rasul selalu berfungsi sebagai koreksi arah, mengembalikan manusia pada kesadaran dasar tentang siapa yang sesungguhnya layak menjadi pusat ketaatan.
Dalam konteks itulah puasa menemukan maknanya. Ia bukan ritual yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perjalanan panjang risalah tauhid yang diwariskan lintas generasi kenabian. Al-Qur’an menyebut bahwa kewajiban puasa juga dikenakan kepada umat-umat terdahulu, dengan tujuan membentuk ketakwaan. Ketakwaan di sini bukan sekadar label kesalehan, tetapi sikap hidup yang sadar batas, mampu mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang diambil.
Jika diperhatikan lebih jauh, struktur puasa menyimpan pelajaran yang halus namun mendalam. Sahur mengajarkan kesiapan sebelum menghadapi ujian kehidupan.
Imsak menandai momen sadar untuk berhenti, sebuah latihan mengerem diri di tengah dorongan spontan. Menahan lapar dan dahaga bukan tujuan final, melainkan sarana untuk melatih dominasi akal dan hati atas dorongan instingtif.
Di situlah manusia berlatih mengatur ambisi, meredam keserakahan, dan menata ulang prioritas hidup agar tidak terjebak pada kepentingan duniawi semata.
Melalui bimbingan Rasulullah, puasa tidak dibiarkan berhenti pada aspek formal. Ia dijadikan latihan kolektif untuk menjaga kejernihan visi dan konsistensi langkah dalam mengabdi kepada Allah.
Ketika nilai-nilai ilahi itu benar-benar tercermin dalam kehidupan yang damai dan berkeadilan, umat merayakannya sebagai Idulfitri.
Perayaan ini bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadan, melainkan simbol kembalinya manusia pada fitrahnya: bebas dari dominasi nafsu dan tunduk sepenuhnya kepada Tuhan. Meski demikian, puasa selalu membawa risiko kehilangan makna jika dijalankan hanya sebagai rutinitas tahunan.
Ketika ia direduksi menjadi sekadar menunda makan di siang hari lalu menggantinya dengan konsumsi berlebih di malam hari, ruh transformasinya memudar.
Puasa yang sejati justru menuntut perubahan cara hidup, bukan hanya perubahan jadwal makan.
Ia melatih manusia menjadi pribadi yang disiplin, sadar batas, dan setia pada nilai-nilai ilahi dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, puasa bukan sekadar kewajiban individual, melainkan proyek pembentukan manusia yang utuh.
Ia menumbuhkan kesadaran bahwa kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, tetapi menaklukkan diri sendiri.
Dari sanalah lahir harapan bahwa manusia mampu menjalani hidup dengan kebebasan yang bertanggung jawab, tetap teguh sebagai hamba Allah di tengah godaan dunia yang tak pernah sepi.
