Timur atau Barat yang Salah?
Langit Timur Tengah kembali menyala.
Nama Iran, Israel, dan Amerika Serikat berputar dalam pusaran siaran langsung, analisis militer, dan diplomasi yang retak. Rudal diluncurkan dengan dalih keamanan. Represi dibenarkan dengan alasan stabilitas.
Dunia menyaksikan.
Sebagian bersorak.
Sebagian mencela.
Sementara yang lain hanya menderita.
Pertanyaan yang menggantung bukan lagi siapa menang.
Pertanyaannya: Timur salah? Barat salah?
Atau keduanya sedang kehilangan arah?
____________________________________________________________________________________________
Yehuda, Persia, dan Bayangan Lama yang Berulang
Sejarah pernah mengenal dua peradaban besar:
Yehuda. Persia.
Keduanya hadir dalam kisah panjang dunia kuno.
Keduanya pernah menjadi pusat identitas, kekuasaan, dan keyakinan.
Namun sejarah juga mencatat sesuatu yang lain.
Ketika kekuasaan kehilangan keseimbangan, kebenaran sering berubah menjadi pembenaran.
Hari ini dunia seakan melihat bayangan itu kembali.
Bukan dalam bentuk yang sama, tetapi dengan lakon yang mengingatkan pada konflik besar lain dalam sejarah:
Roma dan Persia.
Dua kekuatan yang pernah saling berhadapan dalam perebutan pengaruh dunia.
____________________________________________________________________________________________
Al-Baqarah 177: Timur dan Barat Bukan Ukuran
Al-Qur’an memberi ukuran yang berbeda.
Dalam Al-Baqarah 177, kebajikan tidak ditentukan oleh arah.
Bukan dengan menghadapkan wajah ke timur.
Bukan pula ke barat.
Kebajikan adalah iman yang hidup, kepedulian pada yang lemah, menepati janji, dan kesabaran dalam kesempitan bahkan dalam peperangan.
Dengan ukuran ini, arah geografis kehilangan makna moralnya.
Arah bukan ukuran.
Nilai yang menentukan.
Dalam peperangan sekalipun, standar etika tidak gugur. Ayat ini tidak memberi pembenaran bagi siapa pun untuk melanggar prinsip dasar kemanusiaan hanya karena merasa berada di pihak yang benar.
_____________________________________________________________________________________________
Perspektif Bani Keturah: Timur yang Jauh
Dalam kisah Ibrahim terdapat satu garis yang jarang dibicarakan:
Keturah.
Dari keturunan ini, sebagian bergerak ke timur, jauh dari pusat drama tanah perjanjian. Mereka bukan pewaris utama wilayah suci, bukan pula penguasa kota-kota yang menjadi pusat sejarah itu.
Namun mereka tetap bagian dari keluarga besar manusia.
Hari ini, dalam makna simbolik, posisi itu dapat dilihat di wilayah lain dunia.
Asia Tenggara.
Wilayah yang jauh dari pusat konflik, namun tetap merasakan getaran dari setiap ledakan geopolitik.
Harga energi melonjak.
Stabilitas regional terguncang.
Narasi propaganda memenuhi ruang digital.
Timur yang jauh sering hanya menjadi gema dari perang yang tidak ia mulai.
_____________________________________________________________________________________________
Perdamaian: Bukan Sekadar Diamnya Senjata
Perdamaian bukan sekadar ketiadaan ledakan.
Perdamaian adalah kehadiran keadilan.
Kedaulatan harus dihormati tanpa standar ganda.
Legitimasi kekuasaan harus berakar pada perlindungan rakyat.
Keamanan tidak dapat dibangun hanya melalui rasa takut.
Tanpa fondasi moral, gencatan senjata hanyalah jeda sebelum bab berikutnya.
_____________________________________________________________________________________________
Siapa yang Patut Ditakuti?
Presiden Emmanuel Macron pernah mengatakan:
“To be free, we must be feared. To be feared, we must be powerful.”
Dalam logika politik kekuatan, kalimat ini terdengar masuk akal. Dunia memang sering bergerak melalui doktrin penangkal yang dibangun di atas rasa gentar.
Namun kitab suci menawarkan perspektif yang berbeda.
Jika kebebasan dibangun di atas ketakutan orang lain, maka kebebasan itu rapuh. Ia bergantung pada kemampuan untuk terus menakut-nakuti.
Al-Qur’an memindahkan pusat rasa takut itu.
Bukan kepada negara adidaya.
Bukan kepada aliansi militer.
Bukan kepada teknologi persenjataan.
Yang patut ditakuti adalah Tuhan semesta alam.
Di hadapan-Nya, timur dan barat kehilangan arti.
Yang tersisa hanyalah satu pertanyaan:
Apakah keadilan ditegakkan.
Apakah yang lemah dibela.
Apakah janji ditepati bahkan ketika perang menggoda untuk melanggarnya.
Jika tidak, maka arah mana pun yang dipilih tetaplah jalan yang tersesat.
By: Abqurah
