{"id":1847,"date":"2025-07-11T03:11:57","date_gmt":"2025-07-11T03:11:57","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/?p=1847"},"modified":"2025-07-11T03:11:58","modified_gmt":"2025-07-11T03:11:58","slug":"otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/","title":{"rendered":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"1847\" class=\"elementor elementor-1847\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7a1a983 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"7a1a983\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-6abe0c1 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"6abe0c1\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.23.0 - 05-08-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p>Dalam banyak peradaban manusia, selalu ada satu fase ketika kekuasaan membesar tanpa batas. Ketika pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi atau penyeimbang sosial, tetapi mulai melangkah ke ranah pengaturan hidup manusia seolah-olah dialah satu-satunya sumber kebenaran. Inilah wajah otoritarianisme yaitu sistem yang membentuk pola ketaatan sepihak kepada satu pihak, tanpa ruang bertanya. Sistem ini sering membungkus dirinya dengan narasi \u201cdemi rakyat\u201d, \u201cdemi keamanan\u201d, atau bahkan \u201cdemi keutuhan\u201d.\u00a0<\/p><p>Dalam Surah An-Nazi\u2019at ayat 24, Allah mengabadikan sebuah deklarasi dari penguasa Mesir:<\/p><blockquote><p style=\"text-align: left;\"><strong>&#8220;Ana rabbukumul a\u2018la&#8221;<\/strong><\/p><p style=\"text-align: left;\">\u201cAkulah tuhanmu yang paling tinggi.\u201d\u00a0<\/p><p style=\"text-align: left;\">(<strong>QS An-Nazi\u2019at: 24)<\/strong><\/p><\/blockquote><p>ayat ini bukan sekadar bentuk arogansi personal namun, ayat ini adalah puncak dari mentalitas otoritarianisme: ketika seorang pemimpin mengklaim posisinya sebagai sumber tunggal pengaturan hidup bangsa pada saat itu. Di masa Fir\u2019aun, kata\u00a0\u201crabb\u201d\u00a0 bermakna\u00a0pengatur, pemelihara, pemberi hukum. Dan ketika Fir\u2019aun menyebut dirinya sebagai\u00a0<strong>\u201crabbukum\u201d,<\/strong> ia sedang menegaskan kekuasaannya pada kehidupan sosial-politik saat itu.<\/p><p>Penting untuk dicatat, Fir\u2019aun tidak mengatakan itu dalam konteks spiritual. Ia menyatakan diri sebagai pengatur tertinggi kehidupan bangsanya disaat itu. Dengan mengangkat dirinya ke posisi \u201crabb\u201d, dalam alih peran pengaturan suatu Bangsa. Inilah bentuk dari otoritarianisme: ketika pemimpin tidak lagi mengelola, tetapi mengklaim hak penuh hukum dan aturan atas manusia.<\/p><p>Kebanyakan orang hanya mengenali otoritarianisme dalam bentuk kekuasaan militer, hukum keras, atau figur penguasa mutlak. Tapi ada bentuk lain yang lebih halus: otoritarianisme intelektual. Yaitu ketika seseorang dilarang menyelidiki, mempertanyakan, atau mencari kebenaran atas sesuatu yang diklaim benar oleh penguasa atau elit tertentu.<\/p><p>Al-Qur\u2019an, secara tajam, membantah pola ini. Dalam <strong>QS Al-Isra\u2019 ayat 36,<\/strong> Allah berfirman:<\/p><p><strong>&#8220;Wa la taqfu ma laisa laka bihi \u2018ilm, inna as-sam\u2019a wal-basara wal-fu\u2019ada kullu ula\u2019ika kana \u2018anhu mas\u2019ula.&#8221;<\/strong><\/p><p><strong>\u201cDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.\u201d<\/strong><\/p><p>Ayat ini bukan hanya seruan terkait intelektualitas, tetapi juga pembongkaran terhadap semua bentuk ketaatan membabi buta. Ketika manusia dilarang bertanya, ketika warga hanya diperintahkan mengikuti tanpa tahu dasar kebenarannya, maka di situlah bentuk otoritarianisme bekerja. Dan ayat ini menolak itu semua. Ayat ini menegaskan bahwa\u00a0setiap individu punya tanggung jawab sendiri atas apa yang ia dengar, lihat, dan pahami.\u00a0Dengan kata lain: tidak ada ruang untuk \u201csaya hanya mengikuti perintah\u201d ketika seseorang berbuat salah. Otoritarianisme tidak hanya menindas fisik, tetapi juga membungkam akal yang mematikan kepekaan manusia terhadap kebenaran. Maka jelas, nilai yang dibawa oleh otoritarianisme bertentangan dengan prinsip yang ditegaskan oleh QS 17:36: bahwa setiap orang harus berpikir, menyelidiki, dan bertanggung jawab atas ilmunya.<\/p><p>Otoritarianisme lahir dari klaim sepihak bahwa kekuasaan bisa menyatu dengan kebenaran mutlak. Seolah-olah, jika seorang pemimpin sudah berkuasa, maka seluruh kehendaknya tak boleh dikritik. Tapi Al-Qur\u2019an justru mengajarkan bahwa\u00a0kebenaran tidak otomatis melekat pada jabatan.\u00a0Bahkan para nabi pun diuji, dibantah, dan berdialog dengan umatnya, karena Islam tidak mengenal bentuk klaim kebenaran yang tak bisa diuji.<\/p><p>Dalam kehidupan sehari-hari, otoritarianisme bisa menjelma dalam banyak bentuk: dalam organisasi, bahkan relasi antarindividu. Ketika seseorang menutup ruang diskusi dan merasa paling benar hanya karena memiliki jabatan, maka ia sudah berada di jalan yang sama dengan Fir\u2019aun, meski tanpa mahkota.<\/p><p>Otoritarianisme gagal karena satu hal: ia ingin mengendalikan kebenaran. Tapi dalam tatanan ilahi, kebenaran tidak lahir dari paksaan. Ia tumbuh dari pencarian, pengamatan, dan pertanggungjawaban. Setiap bentuk pengaturan di luar-Nya yang tidak adil, tak bisa dibenarkan walau dibungkus dengan dalih ketertiban atau kebaikan bersama.<\/p><p>\u00a0<\/p><p><strong>Penulis &amp; Editor: Reine<\/strong><\/p><p>\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam banyak peradaban manusia, selalu ada satu fase ketika kekuasaan membesar tanpa batas. Ketika pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi atau penyeimbang sosial, tetapi mulai melangkah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1849,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1847","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-terkini-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam banyak peradaban manusia, selalu ada satu fase ketika kekuasaan membesar tanpa batas. Ketika pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi atau penyeimbang sosial, tetapi mulai melangkah [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-11T03:11:57+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-11T03:11:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949-1117x628.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1117\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"628\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar\",\"datePublished\":\"2025-07-11T03:11:57+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-11T03:11:58+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\"},\"wordCount\":564,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png\",\"articleSection\":[\"Terkini\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\",\"name\":\"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png\",\"datePublished\":\"2025-07-11T03:11:57+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-11T03:11:58+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png\",\"width\":1366,\"height\":768},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -","og_description":"Dalam banyak peradaban manusia, selalu ada satu fase ketika kekuasaan membesar tanpa batas. Ketika pemimpin bukan sekadar pengatur administrasi atau penyeimbang sosial, tetapi mulai melangkah [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/","article_published_time":"2025-07-11T03:11:57+00:00","article_modified_time":"2025-07-11T03:11:58+00:00","og_image":[{"width":1117,"height":628,"url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949-1117x628.png","type":"image\/png"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar","datePublished":"2025-07-11T03:11:57+00:00","dateModified":"2025-07-11T03:11:58+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/"},"wordCount":564,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png","articleSection":["Terkini"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/","name":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png","datePublished":"2025-07-11T03:11:57+00:00","dateModified":"2025-07-11T03:11:58+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#primaryimage","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG_20250711_110544_949.png","width":1366,"height":768},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/07\/11\/otoritarianisme-bersuara-di-tengah-sistem-yang-menolak-mendengar\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Otoritarianisme: Bersuara di Tengah Sistem yang Menolak Mendengar"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1847","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1847"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1847\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1850,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1847\/revisions\/1850"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1849"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1847"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1847"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1847"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}