{"id":2137,"date":"2025-11-08T14:57:41","date_gmt":"2025-11-08T14:57:41","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/?p=2137"},"modified":"2025-11-08T15:02:18","modified_gmt":"2025-11-08T15:02:18","slug":"telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/","title":{"rendered":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2137\" class=\"elementor elementor-2137\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-401fb10 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"401fb10\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-e2daca6 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"e2daca6\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.23.0 - 05-08-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p>Dalam pemahaman umum yang telah berkembang di banyak masyarakat, \u201cHawa\u201d dikenal sebagai perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah. Kisahnya hampir selalu disandingkan dengan sosok Adam. Narasi yang paling populer menyebut bahwa Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk Adam untuk menjadi pendampingnya di surga. Dari kisah tersebut, muncul pandangan bahwa Hawa adalah \u201cibu dari seluruh manusia,\u201d sosok yang melambangkan kasih sayang, pengasuhan, dan kelahiran. Persepsi tersebut kemudian membentuk citra perempuan sebagai pusat kehidupan dan sumber ketenangan bagi manusia. Namun, jika kita menelaah lebih dalam, sosok Hawa yang selama ini kita kenal ternyata tidak disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur\u2019an. Nama \u201cHawa\u201d sama sekali tidak muncul dalam kitab suci tersebut, yang disebut hanyalah kata\u00a0zauj\u00a0atau \u201cpasangan\u201d Adam.<\/p><p>Ayat yang paling sering dikaitkan dengan kisah ini terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 35. Allah berfirman:<\/p><p>\u0648\u064e\u0642\u064f\u0644\u0652\u0646\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0627 \u0622\u062f\u064e\u0645\u064f \u0627\u0633\u0652\u0643\u064f\u0646\u0652 \u0623\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u0648\u064e\u0632\u064e\u0648\u0652\u062c\u064f\u0643\u064e \u0627\u0644\u0652\u062c\u064e\u0646\u064e\u0651\u0629\u064e \u0648\u064e\u0643\u064f\u0644\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0631\u064e\u063a\u064e\u062f\u064b\u0627 \u062d\u064e\u064a\u0652\u062b\u064f \u0634\u0650\u0626\u0652\u062a\u064f\u0645\u064e\u0627 \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0642\u0652\u0631\u064e\u0628\u064e\u0627 \u0647\u064e\u0630\u0650\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0634\u064e\u0651\u062c\u064e\u0631\u064e\u0629\u064e \u0641\u064e\u062a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0646\u064e\u0627 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0638\u064e\u0651\u0627\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0646\u064e<\/p><p>Artinya:<\/p><p>\u201cDan Kami berfirman: \u2018Wahai Adam, tinggallah engkau dan pasanganmu di dalam surga, dan makanlah dengan bebas dari apa saja yang kamu berdua sukai; tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, karena nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.\u2019\u201d<\/p><p>\u00a0 \u00a0 Pada ayat tersebut, Allah menggunakan kata\u00a0zaujuka\u00a0(pasanganmu), bukan nama khusus seperti \u201cHawa.\u201d Dalam kebahasaan Arab, kata\u00a0zauj\u00a0tidak hanya merujuk pada pasangan perempuan. Kata tersebut berarti \u201cpasangan,\u201d \u201cpendamping,\u201d bahkan \u201ckomplementer.\u201d Artinya,\u00a0zauj\u00a0tidak terbatas pada hubungan biologis atau pernikahan dalam pengertian manusia, melainkan dimaknai lebih luas sebagai sesuatu yang berpasangan, saling melengkapi, atau satu kesatuan yang tak terpisahkan.<\/p><p>\u00a0 \u00a0Dengan memahami hal tersebut, kita dapat melihat bahwa kata\u00a0zauj\u00a0dalam ayat ini tidak semata-mata menunjuk pada figur perempuan bernama Hawa, melainkan dapat dimaknai secara lebih luas dan simbolik. Sekali lagi, dalam analisis kebahasaan Al-Qur\u2019an, akar kata\u00a0z-w-j\u00a0yang membentuk istilah\u00a0zauj\u00a0memiliki makna dasar \u201cberpasangan\u201d atau \u201cdua yang saling melengkapi.\u201d Karena itu, penggunaannya tidak hanya terbatas pada konteks suami-istri, tetapi juga dapat merujuk pada segala bentuk pasangan yang bersifat fungsional, sosial, bahkan spiritual (Hujaz, Huda, &amp; Qalyubi, 2023). Dalam beberapa ayat lain, istilah\u00a0zauj\u00a0juga digunakan untuk menggambarkan pasangan dari jenis tumbuhan, binatang, dan kelompok makhluk lainnya, sebuah indikasi bahwa makna\u00a0zauj\u00a0bersifat universal dan tidak terbatas pada jenis kelamin tertentu.<\/p><p>\u00a0 \u00a0 Kajian serupa juga disampaikan oleh Hasyim dan Nasrulloh (2024), yang membedakan antara istilah\u00a0imra\u2019ah,\u00a0zauj, dan\u00a0nis\u0101\u2019\u00a0dalam Al-Qur\u2019an. Mereka menjelaskan bahwa\u00a0zauj\u00a0tidak selalu berfungsi sebagai padanan kata \u201cistri\u201d dalam pengertian relasi biologis, melainkan lebih mengacu pada entitas yang bersanding secara eksistensial, dua pihak yang diciptakan untuk saling melengkapi dalam tugas dan tanggung jawab. Dalam hal tersebut, penyebutan\u00a0zaujuka(pasanganmu) pada Surah Al-Baqarah ayat 35 dapat dipahami bukan sebagai sosok perempuan bernama Hawa, melainkan sebagai simbol umat manusia yang kelak akan hadir bersama Adam dalam menjalankan amanah kekhalifahan di bumi. Dalam hal ini, tidak serta-merta meniadakan keberadaan Hawa sebagai sosok historis, tetapi mengajak kita untuk melihat makna yang lebih dalam. Bahwa Al-Qur\u2019an, dengan gaya bahasanya yang kaya makna, tidak menonjolkan identitas personal Hawa justru karena pesan yang ingin disampaikan melampaui aspek biologis. Fokusnya bukan pada siapa yang pertama diciptakan atau dari mana ia berasal, tetapi pada konsep kemitraan dan tanggung jawab bersama antara manusia dan Tuhan.\u00a0<\/p><p>\u00a0 \u00a0Kesimpulannya, figur yang selama ini dikenal sebagai Hawa dapat dipahami bukan semata sebagai individu perempuan pertama, melainkan sebagai simbol umat manusia yang mendampingi Adam dalam menjalankan amanah ilahi. Dengan tidak disebutnya nama \u201cHawa\u201d secara eksplisit dan digunakannya istilah\u00a0zauj\u00a0yang bermakna luas, Al-Qur\u2019an mengarahkan perhatian kita pada hakikat relasi spiritual dan sosial antara manusia dan Tuhannya. \u201cHawa\u201d dalam kerangka tersebut bukan sekadar sosok perempuan biologis, tetapi lambang kemanusiaan yang tunduk dan taat kepada perintah Allah, pendamping Adam dalam misi kekhalifahan, bukan hanya di surga, tetapi juga di bumi. Hal tersebut menggeser fokus narasi dari persoalan asal-usul biologis menuju pemaknaan eksistensial, bahwa manusia, laki-laki maupun perempuan, diciptakan untuk saling melengkapi dan bersama-sama menjalankan amanah Tuhan. Dengan begitu, kisah Adam dan pasangannya bukan kisah dua insan pertama, tetapi cerminan dari hubungan spiritual, sosial, dan moral yang menjadi dasar kehidupan manusia hingga kini.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Penulis: Angkasa<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Daftar pustaka<\/p><p>Hasyim, M., &amp; Nasrulloh. (2024).\u00a0Sebutan Istri dalam Narasi Al-Qur\u2019an: Telaah Konseptual dan Kontekstual Kata Imra\u2019ah, Zauj, dan Nis\u0101\u2019 Perspektif Al-Fur\u016bq al-Lughawiyyah.\u00a0Holistik Analisis Nexus, 3(1).\u00a0<\/p><p>Hujaz, M., Huda, N., &amp; Qalyubi, S. (2023). Analisis Semantik Kata Zawj dalam Al-Qur\u2019an. AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur\u2019an,<\/p><p>4(2).\u00a0\u00a0<\/p><p>\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pemahaman umum yang telah berkembang di banyak masyarakat, \u201cHawa\u201d dikenal sebagai perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah. Kisahnya hampir selalu disandingkan dengan sosok Adam. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2139,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-terkini-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam pemahaman umum yang telah berkembang di banyak masyarakat, \u201cHawa\u201d dikenal sebagai perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah. Kisahnya hampir selalu disandingkan dengan sosok Adam. [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-11-08T14:57:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-11-08T15:02:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"714\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d\",\"datePublished\":\"2025-11-08T14:57:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-08T15:02:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\"},\"wordCount\":698,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg\",\"articleSection\":[\"Terkini\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\",\"name\":\"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg\",\"datePublished\":\"2025-11-08T14:57:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-11-08T15:02:18+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg\",\"width\":1280,\"height\":714},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -","og_description":"Dalam pemahaman umum yang telah berkembang di banyak masyarakat, \u201cHawa\u201d dikenal sebagai perempuan pertama yang diciptakan oleh Allah. Kisahnya hampir selalu disandingkan dengan sosok Adam. [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/","article_published_time":"2025-11-08T14:57:41+00:00","article_modified_time":"2025-11-08T15:02:18+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":714,"url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d","datePublished":"2025-11-08T14:57:41+00:00","dateModified":"2025-11-08T15:02:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/"},"wordCount":698,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg","articleSection":["Terkini"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/","name":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg","datePublished":"2025-11-08T14:57:41+00:00","dateModified":"2025-11-08T15:02:18+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#primaryimage","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/IMG_20251108_230108_083.jpg","width":1280,"height":714},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/11\/08\/telaah-makna-filosofis-di-balik-sosok-hawa\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Telaah Makna Filosofis di Balik Sosok \u201cHawa\u201d"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2137"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2142,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2137\/revisions\/2142"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}