{"id":2199,"date":"2025-12-10T14:31:18","date_gmt":"2025-12-10T14:31:18","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/?p=2199"},"modified":"2025-12-10T14:31:36","modified_gmt":"2025-12-10T14:31:36","slug":"moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/","title":{"rendered":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan"},"content":{"rendered":"\t\t<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"2199\" class=\"elementor elementor-2199\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-10349a6 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"10349a6\" data-element_type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-7501e4e elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"7501e4e\" data-element_type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t<style>\/*! elementor - v3.23.0 - 05-08-2024 *\/\n.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-stacked .elementor-drop-cap{background-color:#69727d;color:#fff}.elementor-widget-text-editor.elementor-drop-cap-view-framed .elementor-drop-cap{color:#69727d;border:3px solid;background-color:transparent}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap{margin-top:8px}.elementor-widget-text-editor:not(.elementor-drop-cap-view-default) .elementor-drop-cap-letter{width:1em;height:1em}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap{float:left;text-align:center;line-height:1;font-size:50px}.elementor-widget-text-editor .elementor-drop-cap-letter{display:inline-block}<\/style>\t\t\t\t<p>Ada satu bentuk pelanggaran moral yang berbahaya bukan karena kerasnya, tetapi karena <strong>halusnya<\/strong>: moral drift. Sebuah kejatuhan yang tidak terjadi dalam satu langkah, tetapi dalam ribuan toleransi kecil. Bukan dosa besar yang langsung menghancurkan manusia. Justru <strong>kebaikan kecil<\/strong> yang setiap hari dikompromikan.<\/p><p>Moral drift itu apa?<\/p><p>\u00a0 \u00a0 Moral drift adalah proses ketika jiwa perlahan kehilangan sensitivitas terhadap keburukan. Awalnya mengganggu, lama-lama biasa, akhirnya dianggap normal.<\/p><p>Contohnya sederhana:<\/p><p>\u2022 berbohong kecil \u201cdemi kenyamanan\u201d,<\/p><p>\u2022 mengabaikan janji kecil karena \u201ctidak penting\u201d,<\/p><p>\u2022 menikmati konten merusak yang dulu kita jauhi,<\/p><p>\u2022 membiarkan kemarahan kecil hidup di dalam diri.<\/p><p>Tidak ada satu pun yang tampak \u201cfatal\u201d, sampai semuanya membentuk karakter baru.<\/p><p><strong>Inilah yang terjadi pada Kaum Luth<\/strong><\/p><p>\u00a0 \u00a0 Dalam paradigma Abrahamik, moral drift bukan sekadar fenomena psikologis.<\/p><p>Ia adalah proses kejatuhan spiritual yang tercatat jelas dalam sejarah para nabi. Kaum Luth tidak langsung menjadi bengkok. Al-Qur\u2019an menjelaskan bagaimana mereka:<\/p><p>1. Mulai dari melanggar batas kecil,<\/p><p>2. menertawakan peringatan,<\/p><p>3. menjadikan keburukan sebagai candaan,<\/p><p>4. hingga akhirnya menjadikan keburukan sebagai budaya.<\/p><p>Normalisasi adalah akar kejatuhan moral.Moral drift selalu dimulai dari pembiasaan, bukan pemberontakan.<\/p><p><strong>Mengapa moral drift berbahaya?<\/strong><\/p><p>Karena ia merusak bukan lewat kejutan, tetapi lewat pembiasaan:<\/p><p><strong>1. Ia membunuh alarm hati<\/strong><\/p><p>Hati punya fungsi moral bawaan: fajr, insting tentang benar dan salah. Moral drift membuat alarm itu mati perlahan.<\/p><p><strong>2. Ia membuat keburukan terasa masuk akal<\/strong><\/p><p>Kita mulai membenarkan: \u201cSemua orang juga begitu.\u201d \u201cTidak seburuk itu.\u201d<\/p><p>\u201cYang penting niatku baik.\u201d<\/p><p><strong>3. Ia merusak integritas tanpa disadari<\/strong><\/p><p>Hancurnya integritas jarang lewat keputusan besar. Ia runtuh lewat kebiasaan yang diulang tanpa koreksi.<\/p><p><strong>Lalu bagaimana mencegahnya?<\/strong><\/p><p>Tidak ada cara instan, tapi ada pola yang diajarkan dalam kisah-kisah Abrahamik:<\/p><p><strong>1. Jaga sensitivitas hati melalui kejujuran kecil<\/strong><\/p><p>Bukan tentang tidak pernah salah; tapi tentang tidak membiasakan diri dengan yang salah.<\/p><p><strong>2. Kelilingi diri dengan lingkungan yang menegur<\/strong><\/p><p>Kaum Luth, tidak ada yang saling mengingatkan. Tanpa lingkungan yang benar, moral drift menjadi tak terhindarkan.<\/p><p><strong>3. Jangan anggap kecil hal kecil<\/strong><\/p><p>Para nabi mengajarkan: \u201cKesalahan kecil yang diulang-ulang lebih berbahaya daripada kesalahan besar yang disesali.\u201d<\/p><p><strong>4. Perhatikan perubahan diri dari waktu ke waktu<\/strong><\/p><p>Cek diri: apa yang dulu tidak berani kamu lakukan, kini terasa biasa? Di situlah moral drift bekerja.<\/p><p><strong>Akhirnya, ini bukan tentang larangan tapi tentang arah hidup<\/strong><\/p><p>\u00a0 \u00a0 Moral drift adalah tentang <strong>arah<\/strong>, bukan tentang satu peristiwa. Kalau arahmu mengarah pada kelonggaran moral, kamu akan sampai di tempat yang keliru meski setiap langkah tampak kecil. Sebaliknya, jika arahmu terjaga, maka kesalahan kecil pun tidak menyeretmu jauh. Dalam tradisi Abrahamik, keselamatan bukan soal menjadi sempurna tetapi soal selalu kembali sebelum terlalu jauh hanyut.<\/p><p>Karena orang yang paling celaka bukanlah yang jatuh, melainkan yang tidak sadar bahwa ia sedang bergerak menuju jatuh.<\/p><p>\u00a0<\/p><p>\u00a0<\/p><p>Penulis: Abqurah<\/p><p>\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada satu bentuk pelanggaran moral yang berbahaya bukan karena kerasnya, tetapi karena halusnya: moral drift. Sebuah kejatuhan yang tidak terjadi dalam satu langkah, tetapi dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2202,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-terkini-2"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ada satu bentuk pelanggaran moral yang berbahaya bukan karena kerasnya, tetapi karena halusnya: moral drift. Sebuah kejatuhan yang tidak terjadi dalam satu langkah, tetapi dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-12-10T14:31:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-12-10T14:31:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1280\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"720\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan\",\"datePublished\":\"2025-12-10T14:31:18+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-10T14:31:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\"},\"wordCount\":434,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg\",\"articleSection\":[\"Terkini\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\",\"name\":\"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg\",\"datePublished\":\"2025-12-10T14:31:18+00:00\",\"dateModified\":\"2025-12-10T14:31:36+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg\",\"width\":1280,\"height\":720},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -","og_description":"Ada satu bentuk pelanggaran moral yang berbahaya bukan karena kerasnya, tetapi karena halusnya: moral drift. Sebuah kejatuhan yang tidak terjadi dalam satu langkah, tetapi dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/","article_published_time":"2025-12-10T14:31:18+00:00","article_modified_time":"2025-12-10T14:31:36+00:00","og_image":[{"width":1280,"height":720,"url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan","datePublished":"2025-12-10T14:31:18+00:00","dateModified":"2025-12-10T14:31:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/"},"wordCount":434,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg","articleSection":["Terkini"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/","name":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg","datePublished":"2025-12-10T14:31:18+00:00","dateModified":"2025-12-10T14:31:36+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#primaryimage","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2025\/12\/IMG_20251210_222851_729.jpg","width":1280,"height":720},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2025\/12\/10\/moral-drift-ketika-diri-perlahan-terbiasa-dengan-keburukan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Moral Drift: Ketika Diri Perlahan Terbiasa dengan Keburukan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2199"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2206,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2199\/revisions\/2206"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2202"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}