{"id":552,"date":"2021-08-16T04:31:00","date_gmt":"2021-08-16T04:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/"},"modified":"2021-08-16T04:31:00","modified_gmt":"2021-08-16T04:31:00","slug":"al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/","title":{"rendered":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: center;\"><i>Bila seseorang mengimani Kitab Al-Qur\u2019an, berarti dia meyakini seluruh firman (wahyu) di dalamnya sebagai ketetapan dan kehendak Allah yang harus dijalankan tanpa ada keraguan dan ketakutan sedikit pun. Janganlah Anda takut kepada mereka yang dapat membunuhmu secara darah daging, tetapi takutlah kepada DIA yang dapat mematikan Jiwa dan ragamu.<\/i><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\"><b>AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d<\/b><\/div>\n<p><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur\u2019an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf (12): 111)<\/b><\/div>\n<\/blockquote>\n<blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Sahabatku &#8230;<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa salah satu <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/\">sumber kebenaran<\/a> ilahi adalah wahyu Al-Qur\u2019an. Kita patut bersyukur kepada para sahabat Rasulullah Muhammad yang telah berhasil menyusun Al-Qur\u2019an yang kini menjadi kitab yang paling banyak dibaca manusia, bahkan dihafalkan. Meski demikian, kemampuan membaca dan menghafal AlQur\u2019an tidak berkaitan langsung dengan kedamaian dan kesejahteraan ummat manusia dan alam sekitar. Tradisi membaca atau mempelajari Kitab Al-Qur\u2019an umumnya hanya dijadikan sebatas pengetahuan dan sumber mendapat pahala dan imbalan materi. Sesuatu yang berbeda dari maksud Allah mewahyukannya kepada manusia melalui Rasulullah Muhammad.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/s1350\/STUDIO.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" alt=\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1\" border=\"0\" data-original-height=\"650\" data-original-width=\"1350\" height=\"308\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\" title=\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1\" width=\"640\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan kata lain, ummat manusia atau ummat Islam belum mampu bersikap secara benar terhadap Al-Qur\u2019an sehingga dia betul-betul dapat menjadi Kitab Petunjuk dalam hidup dan kehidupan manusia. Fenomena yang terlihat saat ini adalah Kitab Al-Qur\u2019an dan kitab-kitab tafsir Al-Qur\u2019an yang beredar di tengah masyarakat belum mampu membangkitkan minat manusia untuk menjadikan Al-Qur\u2019an sebagai Kitab yang hidup, Kitab Petunjuk yang dipandang sebagai wahyu instruksional Allah yang aktual pada saat ini bagi mereka yang membacanya. Lagi-lagi yang menjadi niat si pembaca hanyalah hasrat untuk mendapat pahala. Selebihnya, manusia membaca Al-Qur\u2019an tak ubahnya dengan membaca sebuah buku dongeng atau fiksi, sesuatu yang tidak bisa diterapkan dalam keseharian.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/apakah-musyrik-itu.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Apakah Musyrik Itu ?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kali ini penulis mengajak sahabat untuk merenungkan kedudukan Al-Qur\u2019an sebagai Kitab Allah, yakni ayat-ayat Allah yang berisi tentang ketentuan-ketentuan hukum dan petunjuk hidup manusia, dan secara khusus mengajak para sahabat merenungi ayat-ayat AlQur\u2019an yang berisi tentang kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah, agar semuanya menjadi ayat petunjuk dan penerang dalam kehidupan ini.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">(Setara bahasa) kata \u201cqur&#8217;an\u201d berarti \u201cbacaan\u201d yang berasal dari kata dasar \u201cgara&#8217;a\u201d, membaca. Kata Al-Qur\u2019an sendiri berbentuk mashdar dalam arti isim maful yakni \u201cmagru&#8217;\u201d (yang dibaca). Sedangkan secara definitif, Al-Qur\u2019an dimaknai dengan Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dalam bahasa Arab yang tertulis dalam satu mushaf dimulai dari surat Al-Fatihah (1) dan diakhiri dengan surat An-Nas (114).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an bukanlah satu kitab yang diturunkan sekaligus kepada Nabi Muhammad dalam bentuk tertulis di atas kertas, melainkan merupakan suatu himpunan informasi Allah (wahyu) atau firman yang diturunkan secara berangsur-angsur dalam bahasa Arab yang terurai secara jelas (gur&#8217;anan &#8216;arabiyyan) selama hampir 23 tahun. Wahyu tersebut disampaikan dan dibacakan oleh Nabi Muhammad dan selanjutnya dihafalkan dan ditulis oleh para sahabat Nabi. Selanjutnya, hafalan dan tulisan tersebut dikumpulkan dan disusun dalam suatu mushaf Al-Qur\u2019an pada masa pemerintahan Khalifah \u201cUtsman bin Affan. Ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur\u2019an yang ada saat ini diyakini disusun sesuai dengan arahan langsung dari Rasulullah Muhammad.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/sejak-kapan-anda-beriman.html\">Sejak Kapan Anda Beriman ?&nbsp;<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam bentuknya yang terlihat saat ini, Kitab Al-Qur\u2019an terdiri atas 30 juz (bagian), 114 surat, 6.236 ayat dengan 77.439 kosakata, dan 323.015 jumlah hurufnya. Al-Qur\u2019an berisi tentang masalah keimanan (agidah), peraturan-peraturan hukum yang mengatur tingkah laku dan tata hidup dan kehidupan manusia, baik secara personal maupun sosial, ilmu pengetahuan, kisah-kisah, dan persoalan hidup yang hak dan yang batil.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Adapun mengenai bagaimana cara Allah berkomunikasi (mewahyukan sesuatu) kepada manusia, dijelaskan dalam Al-Qur\u2019an surat Asy-Syura (42) ayat 51 dengan tiga cara:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizib-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hal ini pernah dipertegas oleh &#8216;Toshihiko Izutsu dalam bukunya \u201cGod and Man in The Koran\u201d yang Mengatakan, ada tiga bentuk komunikasi verbal Allah kepada manusia yaitu, komunikasi misterius (mysterious communication), berbicara dari balik tabir (speaking from bebind the veil), dan mengirim utusan (the sending of a messenger).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/apakah-shirathal-mustaqim-itu.html\">Apakah Shirathal Mustaqim Itu?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dari segi periodisasi turunnya ayat-ayat Al-Qur\u2019an, dibagi menjadi ayat-ayat makkiyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah, dan ayat-ayat madaniyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan setelah Rasulullah hijrah. Sedangkan dari jenis ayatnya, Dia membagi ayat-ayat Al-Qur\u2019an menjadi ayat muhkamat (ayat-ayat yang terkait dengan masalah hukum) dan ayat-ayat mutasyabihat (ayat-ayat metaforis, alegoris, perumpamaan). Meskipun bahasa yang digunakan dalam Al-Qur\u2019an adalah bahasa Arab, namun tidak berarti semua ayat dapat serta merta dipahami dan dimengerti seluruhnya dengan benar oleh masyarakat Arab atau generasi ummat Islam. Hal ini disebabkan karena bahasa Al-Qur\u2019an adalah bahasa wahyu yang suci sehingga tidak semua manusia dapat memahaminya. Selain itu, penggunaan bahasa Arab dalam pergaulan sosial terus mengalami perkembangan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam beberapa literatur atau mungkin dalam beberapa ceramah agama, Anda sudah sering membaca dan mendengar tentang beberapa fungsi dari Al-Qur\u2019an itu sendiri. Namun kali ini, penulis ingin mengajak sahabat untuk merenungi beberapa fungsi Al-Qur\u2019an yang tidak banyak dibahas dalam literatur agama Islam (buku tafsir) dengan merujuk langsung pada ayat-ayat Al-Qur\u2019an itu sendiri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Beberapa fungsi dari Kitab Al-Qur\u2019an bagi kehidupan manusia, khususnya orang-orang beriman adalah sebagai berikut:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>a. Sebagai Kitab Petunjuk<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Secara prinsip, Al-Qur\u2019an berfungsi sebagai Kitab Petunjuk bagi ummat manusia (budan lin nas) pada umumnya dan bagi orang-orang yang bertakwa (hudan li muttaqin) pada khususnya, sehingga memahami maksud yang tersurat dan tersirat dari ayat-ayat Al-Qur\u2019an adalah sebuah keniscayaan. Tanpa memahaminya, manusia tidak dapat mengikuti dan menjalani petunjuk Al-Qur\u2019an. Penegasan akan fungsi tersebut tertuang dalam surat AlBagarah (2) ayat 185 berikut ini:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur\u2019an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ayat di atas dengan tegas menyatakan fungsi AlQur\u2019an sebagai petunjuk bagi manusia (hudan lin nas) dan sekaligus menjelaskan mengenai petunjuk ayat itu sendiri (bayyinat minal huda). Maksudnya, di samping ayat-ayat Al-Qur\u2019an berfungsi sebagai petunjuk (budan), ayat-ayat tersebut juga seringkali menjelaskan atau menafsirkan maksud dari ayat-ayat (petunjuk) lainnya. Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Qur\u2019an menafsirkan ayat-ayat lainnya (Tafsir al-ayat bil ayat), Jadi, Al-Qur\u2019an terkadang menafsirkan dirinya sendiri. Selain itu, petunjuk ayat-ayat Al-Qur\u2019an (hudan) dijelaskan Allah melalui ayat-ayat tentang kisah para Nabi dan Rasul-Nya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/menjadi-saksi-saksi-allah.html\">Menjadi Saksi-Saksi Allah<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kisah para Rasul berikut para penentangnya merupakan bayyinat (penjelasan, bukti) dari petunjuk ayat-ayat lainnya. Dengan demikian, saat manusia sudah mampu memahami petunjuk dari ayat-ayat tersebut barulah kemudian Al-Qur\u2019an dapat berfungsi sebagai \u201cAl-Furqan\u201d (Pembeda) antara yang hak dan yang batil. Untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil silakan cari petunjuknya dalam Al-Qur\u2019an. Artinya, untuk mengetahui apakah sesuatu itu hak atau batil, silakan cari jawabannya dalam Al-Qur\u2019an.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebagai Kitab Petunjuk, maka sejatinya Al-Qur\u2019an adalah kitab yang jelas (kitabun mubin) dengan susunan bahasanya yang tersusun indah dan jelas, sehingga AlQur\u2019an sesungguhnya mudah untuk dipahami tanpa perlu membutuhkan penafsiran yang berbelit-belit. Perhatikan surat Maryam (19) ayat 97 berikut ini:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur\u2019an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur\u2019an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perhatikan pula surat Al-Qamar (54) ayat 17:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur\u2019an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Satu hal yang perlu diingatkan ulang, Al-Qur\u2019an akan dapat menjadi Kitab Petunjuk dalam kehidupan ini, jika seseorang sudah meninggalkan keyakinan dan komunitasnya yang musyrik (najis) dan masuk ke dalam komunitas mu&#8217;min, yaitu komunitas orang-orang yang telah berjanji untuk menegakkan aktivitas pengabdian hanya kepada Allah dan menjaga dirinya dari hal-hal yang najis, jauh dari pengaruh bahaya syirik, dan yakin akan hasil akhir dari setiap amal perbuatannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>b. Sebagai Obat Penawar dan Rahmat<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penegasan Al-Qur\u2019an sebagai obat penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman terdapat dalam surat Al-Isra (17) ayat 82 berikut ini:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan Kami turunkan dari Al-Qur\u2019an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur\u2019an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi fisik material dan dimensi mental spiritual. Tentu saja yang dapat disembuhkan oleh Al-Qur\u2019an bukanlah penyakit fisik manusia melainkan penyakit mental Spiritual (ruhani) manusia. Jika dalam keseharian banyak orang menggunakan ayat-ayat Al-Qur\u2019an untuk menyembuhkan penyakit fisik manusia, sesungguhnya hal itu salah kaprah dan perbuatan zalim.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/06\/ujian-itu-sahabat-orang-beriman.html\">Ujian Itu Sahabat Orang Beriman<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penyakit ruhani yang paling ganas dan dapat menggerogoti kesadaran manusia adalah penyakit syirik (musyrik). Penyakit yang menjadikan manusia sebagai hamba yang najis dan menajiskan. Musyrik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah. Musyrik bagaikan penyakit kusta yang tidak dapat disembuhkan. Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit syirik (najis) tersebut adalah Ruhul Qudus (Ruh Suci) yang berasal dari Yang Maha Suci. Itulah firman Allah (wahyu Al-Qur\u2019an) yang harus dikonsumsi oleh ruhani manusia. Dengan peringatan dan ancaman Al-Qur\u2019an tentang kemusyrikan, maka seseorang akan menjadi sadar (sembuh) dan siap menjadi hamba Allah yang sejati, tidak lagi berlaku syirik kepada-Nya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Musyrik adalah biang dari segala penyakit dan kejahatan manusia. Ketika seseorang tidak takut akan azab dan murka Allah (musyrik), maka dia akan berani melakukan pelanggaran dan kejahatan apa pun. Sebaliknya, ketika seseorang sudah kembali menyadari jati dirinya sebagai hamba dari-Nya, maka dia tidak akan berani melakukan pelanggaran dan kejahatan apa pun dalam hidupnya. Kapan pun dan di mana pun, dia selalu menghadirkan Allah dalam diri dan kehidupannya. Dia selalu bersama Allah dan Allah senantiasa bersamanya. Artinya, Allah telah bersemayam dalam arasy dirinya, sehingga DIA sangat dekat dengan urat nadinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/06\/islam-bukan-agama.html\">Islam Bukan Agama<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penyakit musyrik itulah yang disembuhkan oleh Rasulullah dengan ayat-ayat Al-Qur\u2019an. Bukan dengan cara meminumkan tulisan ayat-ayat Al-Qur\u2019an kepada manusia tetapi dengan menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Al-Qur\u2019an kepada manusia yang musyrik tersebut. Ruhul Qudus jika disemayamkan dalam kesadaran (shudur) manusia, maka dia akan mampu membersihkan penyakit-penyakit yang ada dalam qalbunya. Sehingga dia akan menjadi manusia berkat yang membawa rahmat bagi alam sekitarnya. Jika Al-Qur\u2019an sudah menjadi Kitab Petunjuk, dia akan mampu menyembuhkan moral bejat manusia. Jika ayat-ayat Al-Qur\u2019an dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan manusia, pastilah akan penuh dengan rahmat (kasih sayang) dari Allah. Wajar jika dikatakan, bahwa diutusnya seorang Rasul adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Hanya melalui Rasul-Nya, Allah menyampaikan ayat-ayat-Nya kepada manusia. Melalui Rasul-Nya pula, Dia memberi peringatan dan berita gembira kepada manusia. Dan yang selalu disampaikan oleh para Rasul-Nya dan orang-orang beriman adalah ayat-ayat Allah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Betul jika Al-Qur\u2019an merupakan rahmat Allah bagi orang-orang beriman. Namun, bagi mereka yang zalim (musyrik), Al-Qur\u2019an tidak akan menjadi obat penawar (syifa) dan rahmat bagi mereka, melainkan hanyalah kerugian. Meskipun mereka membaca dan memahami Al-Qur\u2019an, namun tidak akan menjadi petunjuk dalam hidupnya. Mereka tidak ingin mengamalkan perintah dan petunjuk Al-Qur\u2019an secara menyeluruh dalam kehidupannya. Mereka hanya mengamalkan ayat-ayat yang menurutnya ringan dan menguntungkan bagi diri dan kelompoknya. Mereka pandai memikulkan beban kepada ummat atau orang lain, tetapi mereka sendiri enggan untuk memikul perintah Allah dan Rasul-Nya. Itulah wajah orang-orang musyrik, orang-orang yan zalim terhadap dirinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>c. sebagai Sumber Hukum dan Undang -Undang<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Fungsi Al-Qur\u2019an sebagai sumber dari segala sumber hukum dan undang-undang dalam kehidupan orang-orang beriman dapat dilihat dari beberapa ayat berikut ini:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an surat Al-Baqarah (2) Ayat 2:&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Kitab (Al Qur\u2019an ini tidak ada keraguan padanya: petunjuk bagi mereka yang bertakwa.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Al-Kitab adalah kumpulan hukum atau ketetapan-ketetapan Allah yang ada di dalam Al-Qur\u2019an yang harus dijadikan pedoman dan petunjuk bagi orang yang taat hukum (bertaqwa). Konstitusi dan segala peraturan yang dibuat oleh orang-orang beriman harus didasari oleh ketentuan-ketentuan Allah dalam Al-Qur\u2019an, mulai dari masalah agidah, sosial, ekonomi, hukum, politik dan yang lainnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ketika seseorang memiliki keraguan akan kebenaran Al-Kitab, maka gugurlah keimanannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Al-Qur\u2019an surat Al-Maidah (5) ayat 49 \u2014 50:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>\u201cDan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah Orang-orang yang fasik. &#8220;Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi Orang-orang yang yakin.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sangatlah tegas bahwa Al-Qur\u2019an adalah Kitab Undang-Undang Allah yang harus dijadikan tujukan dan landasan di dalam memutuskan perkara di antara ummat muslim. Bukan sebaliknya, menjadikan hukum jahiliyah sebagai hukum positif bagi ummat muslim. Untuk itulah dibutuhkan adanya kekuasaan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">(Khilafah) Allah yang akan menegakkan hukum Allah tersebut. Jika ummat manusia atau orang orang beriman tidak menjadikan Al-Kitab sebagai sumber hukum dalam memutuskan perkara mereka, maka mereka itulah orang-orang yang disebut kafir, zalim, dan fasiq.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>d. Sebagai Ruh dan Nur Allah<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ruh adalah sesuatu yang menghidupkan, dan nur adalah sesuatu yang menerangi. Al-Qur\u2019an sebagai wahyu adalah Ruh Allah yang dapat menghidupkan qalbu manusia dari kematiannya atau ketidaksadarannya akan nilai-nilai kebenaran sejati. Demikian pula Al-Qur\u2019an sebagai wahyu Allah adalah nur Allah yang dapat menerangi penglihatan dan pemikiran manusia sehingga semuanya menjadi jelas, mana yang hak dan mana yang batil, mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/09\/apakah-anda-seorang-muslim.html\">Apakah Anda Seorang Muslim?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Anda mungkin belum menyadari, bahwa pasangan sejati nan fitrah bagi qalbu (akal pikiran) manusia adalah wahyu (Ruhul Qudus), dan esensi manusia bukan terletak pada fisik jasmaninya melainkan pada apa yang berada dalam kesadaran qalbu-nya. Setiap manusia beraktivitas didorong dan diperintah oleh ruh yang ada di dalam kesadaran qalbu-nya. Manusia tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang tidak ada dalam kesadaran akal pikirannya. Ketika seseorang tidak memiliki ruh Allah (Ruh Qudus, wahyu) dalam kesadarannya, maka di mata Allah dia adalah mayat yang berjalan, manusia yang mati secara spiritual. Dia akan hidup manakala ruh Allah masuk dan berdiam menjadi daya gerak dalam qalbu-nya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penegasan tentang wahyu Al-Qur\u2019an sebagai Nur Allah dapat direnungkan dari beberapa ayat, di antaranya:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Al-Qur\u2019an surat Al-An&#8217;am (6) ayat 122:<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ayat ini tidak bicara soal menghidupkan mereka yang mati secara fisik, karena hal itu tidak pernah terjadi alias mustahil. Tetapi yang dihidupkan adalah kesadaran ideologi spiritual Seseorang oleh Allah melalui orang-orang yang menyampaikan ruh Allah (firman) kepadanya. Selanjutnya, ketika mereka sebagai penerang hidupnya. Meskipun dia berada dalam kehidupan yang gelap (zhulummat, musyrik) tetapi dia masih dapat berjalan di tengah masyarakat manusia yang telah mati akal budinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<p><b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Al-Qur\u2019an surat Al-Isra (17) ayat 85 \u2014 86:<\/b><\/div>\n<p><\/b><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: &#8220;Ruh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit&#8221;. \u201cDan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Yang dimaksud dengan kata \u201car-ruh\u201d pada ayat di atas bukanlah roh tetapi ruh (Ruhul Qudus, wahyu) Allah. Adapun mereka yang bertanya kepada Nabi Muhammad adalah para Ahli Kitab (Taurat dan Injil) karena di dalamnya juga banyak bercerita tentang ruh Allah (Ruh Qudus). Sehingga jawaban Nabi Muhammad adalah \u201cRuh itu adalah termasuk amar Rabb-ku dan tidaklah kalian (Ahli Kitab) diberi pengetahuan (akan Ruh Qudus) melainkan hanya sedikit. Para Ahli Kitab di zaman Nabi Muhammad tidak lagi memahami dengan benar maksud dari firman (ruh) Allah yang ada di dalam Taurat dan Injil, Sebaliknya, Nabi Muhammad telah banyak diwahyukan (diajarkan) ruh (wahyu) Allah dibanding mereka yang bertanya tersebut. Kenapa demikian? Karena ruh Allah yang telah diwahyukan ke dalam qalbu manusia dapat dicabut atau dilenyapkan oleh Sang Pemilik ruh (wahyu). Inilah yang dimaksud pada ayat 86 di atas sebagai penjelasan lanjutan dari ayat sebelumnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2021\/07\/apakah-anda-hamba-allah-yang-sejati.html\">Apakah Anda Hamba Allah Yang Sejati ?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Di samping menjadi ruh bagi Allah pun sekaligus menjadi 1&#215;7 (cahaya) yang memerangi pemikiran dan langkah manusia, seperti sudah digambarkan pada surat Al-An&#8217;am (6) ayat 122 di atas. Allah yang menerangi langit dan bumi, maka Dia pula yang dapat menerangi qalbu manusia dengan cahaya (nur)-Nya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Namun demikian, Al-Qur\u2019an baru dapat berfungsi sebagai Nur Allah, baru akan menyala dan menjadi penerang manakala dinyalakan dengan syajarah thayyibah, yakni pohon-pohon zaitun (yang menjadi sumber minyak zaitun) yang tumbuh bukan di Barat dan bukan di Timur, yakni di Jazirah Arabia (Timur Tengah). Artinya, seseorang baru akan mengerti makna ayat-ayat Al-Qur\u2019an manakala ditafsirkan dengan sunnah para Rasul Allah yang hidup di daerah Timur Tengah yang dikisahkan dalam Alkitab dan Al-Qur\u2019an. Dalam hal ini, Rasulullah Muhammad adalah Rasul yang telah merangkum semua sunnah para Rasul sebelumnya yang kemudian diaplikasikan dalam perjalanan dakwah dan jihadnya, tahap demi tahap, langkah demi langkah, sesuai dengan tuntunan wahyu yang diajarkan kepadanya. Sehingga sunnah Rasul hakikatnya adalah penerapan wahyu Allah itu sendiri yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah Muhammad dari iqra\u201d hingga al-yauma akmaltu lakum, yang di dalamnya penuh dengan prinsip-prinsip dakwah dan jihad dalam memperjuangkan tegaknya Din al-Islam dalam satu Khilafah (kekuasaan) Allah sebagai sistem hukum yang berlaku dalam semua sektor kehidupan manusia di muka bumi (rabmatan lil &#8216;alamin).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Demikianlah nilai dan hasil yang akan diperoleh oleh manusia manakala berhasil menjadikan Al-Qur\u2019an sebagai Ruh dan Nur dalam diri dan kehidupannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Gambaran indah lainnya, tentang hal ini dapat dilihat dalam surat Asy-Syura (42) ayat 52-53 berikut ini:<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<blockquote><p><b>Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur\u2019an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur\u2019an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur\u2019an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, \u201c(yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allahlah kembali semua urusan.<\/b><\/p><\/blockquote>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sekali lagi, ruh (bukan roh) adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Allah, Sang Pemilik ruh. Ruh adalah wahyu Allah yang menghidupkan dan akan menjadi cahaya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan menjadi petunjuk dalam berjalan di atas jalan yang lurus, Jalan Kebenaran Allah, Pemilik langit dan bumi. Dengan kata lain, seseorang tidak akan bisa menjadi manusia beriman yang sesungguhnya manakala dia belum memahami wahyu Al-Qur\u2019an, memahami esensi makna dari ayat-ayat yang tersurat. Begitu pula seseorang tidak akan dapat berjalan pada shirath mustaqim manakala tidak diberi petunjuk cahaya dari Allah.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>BERSAMBUNG KE BAGIAN II<\/b><\/div>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bila seseorang mengimani Kitab Al-Qur\u2019an, berarti dia meyakini seluruh firman (wahyu) di dalamnya sebagai ketetapan dan kehendak Allah yang harus dijalankan tanpa ada keraguan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[35],"tags":[],"class_list":["post-552","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-al-quran-dan-penafsiran"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bila seseorang mengimani Kitab Al-Qur\u2019an, berarti dia meyakini seluruh firman (wahyu) di dalamnya sebagai ketetapan dan kehendak Allah yang harus dijalankan tanpa ada keraguan dan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-08-16T04:31:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"15 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1\",\"datePublished\":\"2021-08-16T04:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-08-16T04:31:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\"},\"wordCount\":3042,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\",\"articleSection\":[\"Al-Qur'an dan Penafsiran\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\",\"name\":\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\",\"datePublished\":\"2021-08-16T04:31:00+00:00\",\"dateModified\":\"2021-08-16T04:31:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -","og_description":"Bila seseorang mengimani Kitab Al-Qur\u2019an, berarti dia meyakini seluruh firman (wahyu) di dalamnya sebagai ketetapan dan kehendak Allah yang harus dijalankan tanpa ada keraguan dan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/","article_published_time":"2021-08-16T04:31:00+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"15 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1","datePublished":"2021-08-16T04:31:00+00:00","dateModified":"2021-08-16T04:31:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/"},"wordCount":3042,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png","articleSection":["Al-Qur'an dan Penafsiran"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/","name":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1 -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png","datePublished":"2021-08-16T04:31:00+00:00","dateModified":"2021-08-16T04:31:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#primaryimage","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png","contentUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEid23ukG-3cVdm8g4caRitwLW_yi52i2PIA8QkL3dpK8sWP9ZibSJMwfhLtbcJejmRrbwEm_2tHJNTbqEXVuFqPzFswOptAvBEaloFPdZYOSYRG2OVDPoDwIMZ9oFHuDDT8GoGozi09c6c\/w640-h308\/STUDIO.png"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2021\/08\/16\/al-quran-sebagai-kitab-sejarah-bagian-1\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"AL-QUR\u2019AN SEBAGAI \u201cKITAB SEJARAH\u201d BAGIAN 1"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/552","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=552"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/552\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=552"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=552"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=552"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}