{"id":585,"date":"2020-07-14T15:48:00","date_gmt":"2020-07-14T15:48:00","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/"},"modified":"2020-07-14T15:48:00","modified_gmt":"2020-07-14T15:48:00","slug":"sejarah-kata-tuhan-bagian-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/","title":{"rendered":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify; text-indent: 0.5in;\">\n<div style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" alt=\"Sejarah Kata Tuhan\" border=\"0\" height=\"311\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\" title=\"Sejarah Kata Tuhan\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">Sumber Gambar: oneindia.com<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Sejarah Kata TUHAN (Bagian kedua)<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apa yang disebut \u201cbahasa\u201d adalah suatu \u201cperjanjian\u201d antar manusia, artinya, kata \u201ctuan\u201d dapat diganti menjadi \u201ctukan\u201d, \u201ctupan\u201d, \u201ctugan\u201d dan lain sebagainya, asalkan perubahan itu tidak menyimpang dari kata atau makna aslinya, yaitu \u201ctuan\u201d dengan seluruh batasan maknanya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apapun alasannya yang jelas pendeta Melchior Leijdecker telah berhasil merubah Yesus dari \u201ctuan\u201d yang manusiawi menjadi \u201cTuhan\u201d yang ilahi, dan kata \u201cTuhan\u201d adalah murni milik ciptaan pendeta Katolik Roma untuk memenuhi kebutuhan teologisnya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/menjadi-saksi-saksi-allah.html\">Menjadi Saksi &#8211; Saksi Allah<\/a><\/b> <\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tetapi, dalam perkembangannya pergantian kata \u201ctuan\u201d dengan menyelipkan huruf \u201ch\u201d di antara \u201ctu\u201d dan \u201can\u201d pengaruhnya sangat besar dan menyimpang jauh dari makna aslinya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Penyimpangan itu adalah, kata \u201cTuhan\u201d hanya dipahami secara teologis\u2013agamis, yaitu: Penguasa di langit, Raja di sorga, Raja di akhirat yang harus disembah dengan berbagai bentuk ritus (sembahyang), Roh yang ada di hati dan sebagainya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sedangkan pengertian \u201ctuan\u201d adalah raja di dunia, penguasa, pemerintah negara, pengendali pemerintahan, tuan atau majikan rakyat yang secara praktis harus dipatuhi, ditaati hukum dan perintahnya oleh manusia.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Jadi, menurut paham agamis model ini, Allah itu adalah \u201cTuhan\u201d yaitu Tuan di langit dan di akhirat kelak, sedang Kaisar itu adalah \u201ctuan\u201d di bumi. Kedua-duanya harus ditaati dan dipatuhi perintah dan kekuasaanya pada \u201cdunia\u201d-nya masing-masing.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, menurut teologi Kristen dan juga paham agamis orang Islam, harus taat kepada dua obyek ketaatan, kepatuhan, kekuasaan, raja, kerajaan, pengabdian dan sebagainya, yaitu kepada Tuhan yang berada di langit (Kerajaan Sorga).&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dan yang kedua; ketaatan, kepatuhan kepada kerajaan dunia (negara), hukum manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di bumi ini (sekuler).&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga: <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/apakah-shirathal-mustaqim-itu.html\">Apakah Shirathal Mustaqim Itu ?<\/a><\/b> <\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, secara tidak sadar orang terjebak ke dalam ajaran yang mengajarkan bahwa Allah sudah tidak perlu lagi memiliki kerajaan di muka bumi ini seperti Kerajaan Musa, Daud, Salomo.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kerajaan Allah (YAHWEH) berada di langit (sorga) dan nanti di akhir zaman sejarah manusia, Yesus (Isa Al-Masih) sebagai \u201cTuhan\u201d akan turun kembali ke bumi untuk menghukum orang-orang yang tidak percaya akan peristiwa \u201cpembebasan dosa manusia\u201d di tiang salib.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sejak saat kenaikan Yesus ke sorga, hamba-hamba Tuhan khususnya dan manusia umumnya harus menganggap bahwa kerajaan atau kekuasaan apapun bentuknya adalah tidak ada yang tidak berasal dari Allah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Oleh sebab itu, melawan pemerintah atau kekuasaan yang ada berarti melawan ketetapan Allah, walaupun yang memerintah atau yang berkuasa itu adalah penguasa atheis-komunis dan penguasa yang sewenang-wenang.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Hamba-hamba Tuhan harus taat kepada \u201cTuan\u201dnya di bumi yaitu Kaisar, setulus ketaatannya kepada Tuhan di gereja. Ajaran semacam ini menafikan sifat Allah sebagai \u201cTuan\u201d Yang Maha Kuasa, karena Allah tidak menjadi \u201cTuan\u201dnya manusia dalam kehidupan sehari-hari.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Allah atau YHWH hanya berkuasa di tempat-tempat ibadah, sedang di luar tempat ibadah adalah kekuasaan Kaisar.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kemungkinan dari paham yang seperti ini muncullah aliran dalam budaya ummat Islam yang menyatakan bahwa: Hidup di bawah kekuasaan Raja yang zalim (tidak adil) seratus tahun lebih baik daripada kekacauan selama satu hari akibat usaha untuk merubahnya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, jelaslah bahwa kosakata Tuhan masuk ke dalam bahasa Indonesia sebagai pengaruh teologi. Pada akhirnya sampai sekarang kata Tuhan dibakukan sebagai kosakata baru yang disejajarkan dengan kata Ilahdan Rabb dalam bahasa Arab.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Karena itulah dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadarminta (orang Katolik) tidak memberikan keterangan apa pun tentang kata Tuhan, kecuali menyamakannya dengan Allah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, memaknai esensi kata Tuan ini lebih esensi dan memiliki hubungan dengan hamba. Manusia adalah makhluk atau hamba yang harus mengabdi kepada Tuannya. Hubungan Tuan dengan hamba adalah hubungan pengabdian.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Manusia harus menjadikan Tuan Semesta Alam sebagai satu-satunya Tuan yang ditaati dan diabdi. Tidak boleh ada pengabdian lain kecuali kepada pencipta hamba tersebut, yaitu Tuan Semesta Alam.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam tradisi kitab suci Taurat, Injil dan Al-Quran banyak membicarakan hubungan antara hamba\/budak kepada Sang Tuan. Misalnya dalam The Ten Commandements atau 10 perjanjian Bani Israel dimana yang pertama berisi tentang jangan ada allah-allah selain Allah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Makna dalam bahasa Arab adalah La ilaha illa Allah yang artinya \u201cTidak ada ilah kecuali Allah\u201d atau \u201cTidak ada Tuan selain Allah\u201d. Kata Allah berasal dari bahasa Arab, yang tersusun dari kata Al-Ilah yang berarti \u201cSang Ilah\u201d dan secara implisit bermakna Allah adalah Ilah yang ma\u2019rifat, dalam bahasa Indonesia sering disebut Tuhan Yang Maha Esa.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kata ilah atau tuan masih berlaku umum dan apa saja bisa menjadi ilah. Segala sesuatu yang dicintai, ditaati dan diikuti segala kehendak dan perintahnya bisa disebut sebagai tuan atau ilah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Bentuk-bentuk ilah atau tuan-tuan lain adalah harta, wanita, tahta, pemimpin, tanah, perniagaan, dan lainnya termasuk hawa nafsu pribadi manusia bisa menjadi tuan\/ilah.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ketika manusia egosentris hanya untuk dirinya, menjadikan dirinya sebagai ukuran kebenaran maka hawa nafsunya telah berubah menggantikan posisi Tuan Semesta Alam.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Setiap manusia sebagai hamba tidak boleh menjadi tuan. Manusia hanya boleh bertuan kepada satu tuan yaitu Tuan Semesta Alam. Esensi mempersekutuan Allah adalah manakala manusia membuat tandingan tuan-tuan lain selain Tuan Semesta Alam.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Prinsip dasar pengabdian adalah tidak boleh mempunyai dua tuan, hanya satu tuan yaitu Tuan Semesta Alam yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Tuhan Yang Maha Esa, atau dalam bahasa lainnya disebut dengan Allah, God, Yahweh, Elohim, Elia, Sang Hyang Widi Wase, Gusti Allah di Jawa, Karaeng di Sulawesi, Tuang Ala di Ambon, Dewata Agung di Bali, Tete Manis di Papua, dan istilah lainnya. (Kitab Ulangan 6:45, Matius 6:24, Lukas 16: 13, QS. Mu`min\u016bn (23): 23&amp;32).&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Manusia wajib taat hanya kepada Tuan Semesta Alam sebagai pengatur, penguasa dan satu-satunya pusat pengabdian bagi seluruh makhluk-Nya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini sudah tunduk patuh (aslama, muslim) secara terpaksa atau sukarela kepada undang-undang atau hukum yang ditetapkan atas dirinya masing-masing, sehingga tercipta keseimbangan, keharmonisan serta kehidupan yang damai dan sejahtera.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kesimpulannya, makna Rabb, Malik atau Ilah adalah sesuatu yang dipatuhi, yang ditaati perintahnya, dan segala sesuatu yang dipertuankan oleh manusia, sehingga kata \u201cTuhan\u201d yang hanya \u201cdisembah\u201d dan berada di langit adalah bentuk penyesatan dari kaum agamis Nasrani agar mereka tidak merasa syirik atau menduakan \u201cTuan\u201d.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tuhan itu adalah yang disembah di langit dan Tuan itu adalah yang dipatuhi di bumi, yaitu para penguasa bangsa yang menjajah bangsa-bangsa lain. Demikianlah esensi dan sejarah asal muasal dari kata Tuan dan Tuhan.<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber Gambar: oneindia.com Sejarah Kata TUHAN (Bagian kedua) Apa yang disebut \u201cbahasa\u201d adalah suatu \u201cperjanjian\u201d antar manusia, artinya, kata \u201ctuan\u201d dapat diganti menjadi \u201ctukan\u201d, \u201ctupan\u201d, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-585","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-esai"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sumber Gambar: oneindia.com Sejarah Kata TUHAN (Bagian kedua) Apa yang disebut \u201cbahasa\u201d adalah suatu \u201cperjanjian\u201d antar manusia, artinya, kata \u201ctuan\u201d dapat diganti menjadi \u201ctukan\u201d, \u201ctupan\u201d, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-14T15:48:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)\",\"datePublished\":\"2020-07-14T15:48:00+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-14T15:48:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\"},\"wordCount\":1032,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\",\"articleSection\":[\"Esai\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\",\"name\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\",\"datePublished\":\"2020-07-14T15:48:00+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-14T15:48:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -","og_description":"Sumber Gambar: oneindia.com Sejarah Kata TUHAN (Bagian kedua) Apa yang disebut \u201cbahasa\u201d adalah suatu \u201cperjanjian\u201d antar manusia, artinya, kata \u201ctuan\u201d dapat diganti menjadi \u201ctukan\u201d, \u201ctupan\u201d, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/","article_published_time":"2020-07-14T15:48:00+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)","datePublished":"2020-07-14T15:48:00+00:00","dateModified":"2020-07-14T15:48:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/"},"wordCount":1032,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg","articleSection":["Esai"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/","name":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2) -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg","datePublished":"2020-07-14T15:48:00+00:00","dateModified":"2020-07-14T15:48:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#primaryimage","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg","contentUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEhkzLs71YoGMZlkbCx8uNdJBm98_DjFttLOBiY6Cs4-BcqILHUyMFS5lBhJrJFxOwSczQewNLfUHceNFylej_SWF1a0ilyFhCXSdQORs2q89ckaWw36qhRAQVmp135j9M23kktHbXjkdx8\/w400-h311\/lord+4.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/14\/sejarah-kata-tuhan-bagian-2\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 2)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/585","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=585"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/585\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=585"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=585"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=585"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}