{"id":586,"date":"2020-07-10T11:46:00","date_gmt":"2020-07-10T11:46:00","guid":{"rendered":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/"},"modified":"2020-07-10T11:46:00","modified_gmt":"2020-07-10T11:46:00","slug":"sejarah-kata-tuhan-bagian-1","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/","title":{"rendered":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)"},"content":{"rendered":"<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" alt=\"Sejarah Kata Tuhan\" border=\"0\" height=\"153\" src=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\" title=\"Sejarah Kata Tuhan\" width=\"400\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">Sumber Gambar: gbcdecatur.org<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b><a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejarah Kata TUHAN <\/a>(Bagian pertama)<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam rangka memahami kata Tuhan dan Tuan, maka diperlukan pendekatan dan analisis asal usul kata tersebut. Dalam berbagai literasi telah ditemukan bahwa secara etimologi atau asal muasal sebuah kata, ternyata kata Tuhan berasal dari kata Tuan.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Salah satu penjelasan pembentukan dan perubahan kata \u2018Tuan\u2019 menjadi kata \u2018Tuhan\u2019 dapat disimak dalam artikel yang ditulis oleh seorang ahli bahasa Remy Sylado dengan judul \u201cBapa Jadi Bapak, Tuan Jadi Tuhan, Bangsa Jadi Bangsat\u201d yang ditulis di kompas.com.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam artikel tersebut akan terlihat adanya perubahan ejaan dari Tuan ke Tuhan dalam Kitab Suci Nasrani terjemahan Melayu dengan huruf Latin. Kata Tuan ini menjadi sebutan khusus bagi Isa Al Masih dalam terjemahan bahasa Melayu beraksara Latin yang bersumber dari injil asli bahasa Yunani untuk perkataan Kyrios.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/apakah-musyrik-itu.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Apakah Musyrik Itu ?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Untuk memeriksa bukti tersebut, kita dapat membuka pelbagai versi terjemahan kitab suci Nasrani tersebut yang masih tersimpan dengan rapi di perpustakaan Lembaga Alkitab Indonesia.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Buku pertama yang memberi keterangan tentang Tuhan dengan cara yang mungkin mengejutkan awam adalah Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam keterangannya tentang Tuhan, \u201carti kata \u2018Tuhan\u2019 ada hubungannya dengan kata Melayu \u2018Tuan\u2019 yang berarti atasan\/penguasa\/pemilik.\u201d&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Ensiklopedi yang hanya satu jilid ini pertama terbit pada tahun 1976. Keterangan tersebut masih dapat dibaca juga dalam ensiklopedi yang lebih paripurna, terdiri dari lima jilid, terbit pada tahun 1991, yaitu Ensiklopedi Gereja.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sesuai data yang ada, istilah Tuhan yang berasal dari kata Tuan, pertama kali hadir dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitab suci Nasrani tersebut.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Perkataan ini dimaksudkan untuk mewakili sifat-sifat omnipresensi atas kata bahasa Yunani, Kyrios, dengan kaitannya pada tradisi Ibrani untuk kata Adon, Adonai,dengan aktualitas sebagai raja dalam kata Yahweh.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Maka, memang akan membingungkan, jika orang membaca kitab suci Nasrani terjemahan Indonesia. Dalam kitab pertama, Perjanjian Lama yang aslinya berbahasa Ibrani, untuk kata-kata Adonai dan Yahweh semua diterjemahkan menjadi Tuhan, sementara dalam kitab kedua, Perjanjian Baru, untuk kata Kyrios juga diterjemahkan menjadi Tuhan.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>Baca Juga : <a href=\"https:\/\/www.teodisi.com\/2020\/05\/sejak-kapan-anda-beriman.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sejak Kapan Anda Beriman?<\/a><\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam kitab suci Nasrani bahasa Melayu beraksara Latin terjemahan Brouwerius yang muncul pada tahun 1668, untuk kata yang dalam bahasa Yunaninya, Kyrios, dan sebutan ini diperuntukkan bagi Isa Almasih, diterjemahkannya menjadi Tuan.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Terjemahan ini dapat diperiksa dalam buku kelima Perjanjian Baru, dari bagian surat injili Paulus kepada ummat di Roma. Injil Roma 1:1-4, diterjemahkan dalam bahasa Melayu sebagai berikut;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPaulo Jesu Christo pounja hamba, Apostolo bapangil, bertsjerei pada Deos pounja Evangelio, (Nang dia daulou souda djandji derri Nabbi Nabbinja, dalam Sagrada Scriptoura).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><i>Derri Annanja lacki lacki (jang souda berjadi derri bidji David dalam daging: Jang dengan coassa souda caliatan jang Annac Deos, dalam Spirito yang bersaksiakan carna bangon derri matti) artinya Jesu Christon Tuan cami.\u201d<\/i>&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Berhubung terjemahan Brouwerius ini dianggap sulit, antara lain banyaknya serapan kata bahasa Portugis, dan karenanya hanya mudah dipakai di kalangan komunitas bekas-bekas budak Portugis, para Mardijker, maka timbul gagasan orang-orang saleh di antara bedebah-bedebah VOC untuk menerjemahkan kembali seluruh bagian Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dengan bahasa Melayu yang benar-benar bagus.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tugas itu diserahkan kepada Melchior Leijdecker, pendeta tentara yang berlatar pendidikan kedokteran.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Melalui terjemahan Leijdecker-lah akan ditemukan perubahan harfiah dari Tuan menjadi Tuhan. Dalam kitab terjemahannya ini, ayat kitab suci Roma 1:1-4 terjemahan Browerius di atas, teks terjemahannya berubah menjadi seperti ini;&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cPawlus sa\u2019awrang hamba \u2018Isaj \u2018Elmeseih, Rasul jang terdoa, jang tasakuw akan memberita Indjil Allah, (Jang dihulu telah dedjandjinja awleh Nabijnja, didalam Suratan yang khudus).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Akan Anaknja laki (jang sudah djadi deri beneh Daud atas perij daging: Jang telah detantukan Anakh Allah dengan kawasa atas perij Rohu-\u2018Itakhdis, deri pada kabangkitan deri antara awrang mati,) janij \u2018Isaj Elmeseih Tuhan kami.\u201d&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya perbedaan dua terjemahan tersebut di atas, jelaslah yang tadinya oleh Brouwerius diterjemahkan Tuan (dalam bahasa Portugis adalah Senhor, bahasa Perancis Seigneur, bahasa Inggris-Lord, bahasa Belanda-Heere), maka melalui Leijdecker berubah terjemahannya menjadi Tuhan.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Sebutan Tuan bagi Yesus Kristus atau Isa Almasih ini berasal dari surat-surat Paulus, orang Turki, yang menggunakan bahasa Yunani kepada bangsa Yahudi, Romawi, dan Yunani di daerah Hellenisme.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Pada setiap akhir suratnya, Paus selalu menyebut Yesus Kristus sebagai Tuan: &#8220;Semoga rahmat Yesus Kristus Tuan kita menyertai ruh kita.&#8221; Kalimat di atas, dalam bahasa Portugis, berbunyi: &#8220;A graca de mosso senhor Jesus Cristo seja com ovosso espiritu&#8221;. Dalam bahasa Belanda berbunyi: &#8220;De genade van onzen heere Jezus Christus zij met uw geest&#8221;.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dalam bahasa Prancisnya, berbunyi: &#8220;Que la grace de notre seigneur Jesus-Christ soit avec votre esprit&#8221;. Dan dalam dalam bahasa Inggris, berbunyi: &#8220;The grace of lord Jesus Christ be whit your spirit&#8221;.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kemudian pada abad-abad berikutnya, sepanjang 200 tahun, penerjemah Alkitab bahasa Melayu melanjutkan penemuan Leijdecker tersebut.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Kini kata Tuhan yang mula-mula ditemukan Leijdecker untuk mewakili dua pengertian pelik insani &amp; ilahi dalam teologi Kristen atas sosok Isa Almasih yang telah menyebabkan gereja bertikai dan setelah itu melahirkan kredo-kredo: Nicea, Constantinopel, Chalcedon dan pada akhirnya menjadi Lema khas dalam bahasa Indonesia.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Apa yang dilakukan Leijdecker, mengapa Tuan menjadi Tuhan, merupakan masalah khas bahasa Indonesia. Hadirnya huruf \u2018h\u2019 dalam beberapa kata bahasa Indonesia, seperti \u2018asut\u2019 menjadi \u2018hasut\u2019, \u2018utang\u2019 menjadi \u2018hutang\u2019, \u2019empas\u2019 menjadi \u2018hempas\u2019, \u2018silakan\u2019 menjadi \u2018silahkan\u2019, agaknya seiring dengan kasus nominatif dan singularis dalam tatabahasa Sansekerta ke Kawi dan Jawa.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Misalnya tertulis \u2018hana\u2019 dibaca \u2018ono\u2019, \u2018hapa\u2019 dibaca \u2018opo\u2019. Hal ini juga pernah diterangkan Alif Danya Munsyi di majalah Tiara (1984). Ia menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi sebagai salah satu gejala paramasuai, yaitu penambahan bunyi \u201ch\u201d yang nirguna pada kata-kata tertentu, misalnya hembus, hempas, hasut, dan tuhan.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Alif mengatakan bahwa gejala itu timbul karena pengaruh lafal daerah, rasa tak percaya pada diri sendiri, dan yang sangat penting adalah berkaitan dengan penjajahan bangsa Eropa terhadap bangsa Indonesia.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Lingua Franca Melayu yang dipakai bangsa-bangsa Eropa, antara lain Portugis dan Belanda, sebagai bahasa administrasi untuk kegiatan ekonomi dan politik di seantero Nusantara, juga dipakai dalam kepentingan penyiaran agama Nasrani, agama umum yang dianut oleh bangsa-bangsa Eropa.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan penjelasan di atas, dapat disimpukan bahwa secara etimologi bahasa, perubahan kata Tuan menjadi Tuhan berawal dari terjemahan Melchior Leijdecker.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Selain dari sisi pertimbangan bahasa, ada juga kemungkinan Pendeta Leijdecker ini mempunyai tujuan mengganti kata Tuan menjadi kata Tuhan agar tidak rancu dalam penggunaanya, sehingga dibedakanlah antara Tuan yang di langit dengan Tuan yang di bumi dengan menambah huruf \u2018\u2019H\u2019\u2019 itu di tengahnya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tuhan adalah tuan yang ada di langit, sedangkan tuan untuk yang di bumi. Manusia dalam kehidupan beragama menyebut Tuhan, sementara dalam kehidupan masyarakat menyebut Tuan kepada majikannya.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dengan diubahnya kata Tuan menjadi <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Tuhan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tuhan<\/a>, dia ingin menghindari bentrokan dengan aqidahnya sendiri. Sebab bagi ajaran Paulus yang menjadi Katolik Romawi, manusia harus taat kepada dua tuan, dia sebagai orang yang beragama harus taat kepada Tuhan, tetapi dia dalam bernegara harus taat kepada raja atau penguasa negeri itu.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Padahal menurut Injil sendiri, manusia dilarang untuk mempunyai dua tuan;&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\u201cTak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon&#8221; (Matius 6: 24).<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Dari sinilah muncul paham sekularisme yang memisahkan antara agama dengan negara.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Selanjutnya, perubahan kata Tuan menjadi Tuhan ini dilakukan atas dasar pertimbangan teologis Katolik Roma yang memfigurkan Yesus sebagai \u201ctuan\u201d yang ilahiah, untuk membedakan \u201ctuan\u201d yang manusiawi. Tetapi sesungguhnya, kata \u201cTuhan\u201d maknanya tidak dapat dilepaskan dengan makna \u201cTuan\u201d yaitu: yang memerintah, yang menjadi raja, yang mengendalikan, tuan atau majikan, yang menjadi pemilik dan yang dihormati.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Tetapi, karena orang tidak mengetahui sejarah perubahan ini, maka kata \u201cTuhan\u201d menjadi sesuatu yang \u201cmelangit\u201d dan tidak bermakna praktis bagi manusia.&nbsp;<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">Artinya adalah, ketika seseorang menyebut kata \u201cTuhan\u201d, mereka tidak sadar bahwa makna praktisnya adalah \u201cTuan\u201d, yaitu sesuatu yang harus memerintah atau berkuasa, raja, pengendali, tuan atau majikan yang harus ditaati dan dipatuhi oleh manusia sebagai \u201cbudak\u201d atau \u201chamba\u201d dari Tuan-nya itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\"><b>BERSAMBUNG&#8230;<\/b><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber Gambar: gbcdecatur.org Sejarah Kata TUHAN (Bagian pertama) Dalam rangka memahami kata Tuhan dan Tuan, maka diperlukan pendekatan dan analisis asal usul kata tersebut. Dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"class_list":["post-586","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-esai"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v23.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sumber Gambar: gbcdecatur.org Sejarah Kata TUHAN (Bagian pertama) Dalam rangka memahami kata Tuhan dan Tuan, maka diperlukan pendekatan dan analisis asal usul kata tersebut. Dalam [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2020-07-10T11:46:00+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Teodisi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Teodisi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\"},\"author\":{\"name\":\"Teodisi\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\"},\"headline\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)\",\"datePublished\":\"2020-07-10T11:46:00+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-10T11:46:00+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\"},\"wordCount\":1318,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\",\"articleSection\":[\"Esai\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\",\"name\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\",\"datePublished\":\"2020-07-10T11:46:00+00:00\",\"dateModified\":\"2020-07-10T11:46:00+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/teodisi.space\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#website\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"name\":\"Teodisi\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#organization\",\"name\":\"Teodisi.space\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg\",\"width\":1080,\"height\":1080,\"caption\":\"Teodisi.space\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f\",\"name\":\"Teodisi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Teodisi\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/teodisi.space\"],\"url\":\"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -","og_description":"Sumber Gambar: gbcdecatur.org Sejarah Kata TUHAN (Bagian pertama) Dalam rangka memahami kata Tuhan dan Tuan, maka diperlukan pendekatan dan analisis asal usul kata tersebut. Dalam [&hellip;]","og_url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/","article_published_time":"2020-07-10T11:46:00+00:00","og_image":[{"url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg"}],"author":"Teodisi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Teodisi","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/"},"author":{"name":"Teodisi","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f"},"headline":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)","datePublished":"2020-07-10T11:46:00+00:00","dateModified":"2020-07-10T11:46:00+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/"},"wordCount":1318,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg","articleSection":["Esai"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/","name":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1) -","isPartOf":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg","datePublished":"2020-07-10T11:46:00+00:00","dateModified":"2020-07-10T11:46:00+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#primaryimage","url":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg","contentUrl":"https:\/\/blogger.googleusercontent.com\/img\/b\/R29vZ2xl\/AVvXsEjcokEusVohrokaXH7n_QQwDOK0mIV-TAft77D8s7wlyCcfs0G5PHwgNHDyENmkYnzFaQDFb13C4ggA0ObOLIWWMMOvhky08SsIhIxPRwrxQvztn_hfB7417kP6CgDI7ghF0zRYGWXIWFo\/w400-h153\/MyLord.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/2020\/07\/10\/sejarah-kata-tuhan-bagian-1\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/teodisi.space\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Kata Tuhan (Bagian 1)"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#website","url":"https:\/\/teodisi.space\/","name":"Teodisi","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/teodisi.space\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#organization","name":"Teodisi.space","url":"https:\/\/teodisi.space\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","contentUrl":"https:\/\/teodisi.space\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/msg879352705-18537.jpg","width":1080,"height":1080,"caption":"Teodisi.space"},"image":{"@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/7ed0d5580da8b516feef29013e215e9f","name":"Teodisi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/teodisi.space\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/fb5db6af8e7717729e803044c81a162326c049ff8234584ddd4d8f8c6017829f?s=96&d=mm&r=g","caption":"Teodisi"},"sameAs":["https:\/\/teodisi.space"],"url":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/author\/teodisi\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/586","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=586"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/586\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=586"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=586"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teodisi.space\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=586"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}