Sarah : Jejak Perempuan yang Namanya Abadi Dalam Kitab Suci

Dalam tradisi Ibrani dan Islam, Sarah (Ibrani: שָׂרָה‎ Sarah, berarti “putri bangsawan” atau “nyonya”) merupakan figur penting yang memiliki posisi strategis dalam sejarah teologis dan genealogi profetik. Ia adalah istri pertama dari Abraham (Ibrani: Avraham), yang dalam Ajaran Abrahamik dipandang sebagai bapak monoteisme. Sarah adalah perempuan pertama yang disebutkan namanya dalam Alkitab dan satu-satunya perempuan dalam seluruh teks Tanakh yang disebutkan usianya saat wafat (Kejadian 23:1). 

Dalam tradisi Ibrani, Sarah adalah ibu dari Ishak (Yitzhak), yang menjadi leluhur langsung Bani Israel melalui anaknya Yakub (Yaakov), yang kemudian dinamai Israel (Kejadian 35:10-12). Garis keturunan Sarah menjadi landasan spiritual dan historis bagi klaim Bani Israel sebagai umat pilihan yang berasal dari perjanjian Tuhan dengan Abraham dan keturunannya (Kejadian 17:19-21). Dalam tradisi Islam, Sarah (bahasa Arab: سارة juga diakui sebagai istri pertama Nabi Ibrahim dan ibu dari Nabi Ishaq (QS. Hud [11]:71-73).

Dalam kitab Yesaya 51:2 bahkan dikatakan:

“Pandanglah Abraham, bapamu, dan Sara yang melahirkan kamu.”

Ayat demikian menegaskan bahwa Sarah bukan hanya figur pelengkap dalam narasi Abraham, tetapi juga ibu bangsa secara sah dan spiritual.

Kisah Abraham tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang iman, ujian, dan penggenapan janji Tuhan. Namun, di balik kisah besar itu, hadir sosok perempuan tangguh yang telah disebutkan sebelumnya yaitu Sarah. Sarah juga bukan hanya pendamping Abraham dalam pengembaraan fisik menuju Tanah Perjanjian, tetapi juga menyertai perjuangan spiritual menuju pengharapan akan keturunan dan penggenapan janji Tuhan.

Dalam kitab Kejadian 20:12, Abraham menjelaskan bahwa Sarah adalah “anak ayahku, hanya bukan anak ibuku, dan dia menjadi istriku.” Ini menegaskan bahwa Sarah merupakan saudara tiri sekaligus sepupu Abraham, mereka berasal dari garis keturunan yang sama melalui ayah mereka, Terah. Hubungan ini menempatkan Sarah bukan hanya sebagai pasangan hidup, tetapi juga sebagai bagian dari keluarga langsung Abraham yang turut mewarisi misi profetik.

 Hal ini sekaligus menampik anggapan bahwa Abraham berbohong ketika menyebut Sarah sebagai saudarinya di wilayah kerajaan asing. Dalam konteks budaya dan politik waktu itu, pernyataan tersebut adalah bentuk strategi demi keselamatan, bukan kebohongan mutlak, karena secara teknis, Sarah memang saudarinya. Langkah ini mencerminkan kebijaksanaan Abraham dalam menghadapi potensi ancaman kekuasaan, sambil tetap menjaga keselamatan Sarah dan kelangsungan misi ketuhanan mereka.

Perjalanan mereka dimulai ketika Abraham dipanggil oleh Tuhan untuk meninggalkan negeri asalnya dan pergi ke tanah yang akan ditunjukkan oleh-Nya (Kejadian 12:1–5). Bersama Sarah dan keponakannya, Lot, Abraham pun menuju tanah Kanaan, di mana Tuhan kembali menyampaikan janji bahwa tanah itu akan diberikan kepada keturunannya (Kejadian 12:7).

Namun, belum lama menetap di sana, mereka menghadapi kelaparan dan terpaksa pergi ke Mesir. Di Mesir, karena kecantikan Sarah, Firaun tertarik padanya dan memberikan harta benda kepada Abraham. Tetapi setelah itulah menimpa istana Firaun, barulah Firaun mengetahui bahwa Sarah adalah istri Abraham. Maka ia mengusir mereka dari Mesir (Kejadian 12:10–20). Dari peristiwa itu terlihat bahwa bahkan di negeri asing, Sarah tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah Abraham, dan Tuhan tetap menjaga mereka.

Setelah kembali dari Mesir, Abraham dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke Tanah Negeb. Di tempat inilah Abraham dan Lot berpisah karena jumlah ternak mereka yang sangat banyak menyebabkan perselisihan antara para gembala mereka (Kejadian 13:5–12). Abraham menunjukkan kegigihannya dengan memberi Lot pilihan terlebih dahulu, dan ia tetap tinggal di Kanaan.

Di tengah perjalanan hidup itu, Tuhan menyampaikan firman kepada Abraham:

“Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” (Kejadian 15:1)

Namun Abraham mengungkapkan kegundahannya karena belum memiliki anak. Ia berkata bahwa pewaris rumahnya hanyalah hambanya, Eliezer. Tetapi Tuhan menegaskan bahwa keturunannya akan berasal dari anak kandungnya sendiri (Kejadian 15:2–4). Janji itu dikuatkan dengan penglihatan tentang langit penuh bintang sebagai gambaran banyaknya keturunan Abraham (Kejadian 15:5).

Waktu pun berlalu. Sepuluh tahun setelah janji itu, Sarah masih belum mengandung. Dalam keputusasaan, Sarah mengusulkan agar Abraham mengambil Hagar, pengiring -pelayan kehormatan- asal Mesir. 

Penting dicatat bahwa meskipun Hagar sering disebut sebagai budak, kajian sejarah menunjukkan bahwa ia adalah perempuan bangsawan dari istana Mesir. Tradisi Ibrani dan beberapa sumber Islam menyiratkan bahwa raja menghadiahkan Hagar kepada Sarah sebagai bentuk penghormatan, bukan sebagai hamba rendahan. Dengan kata lain, Hagar merupakan bagian dari kalangan istana atau keluarga kerajaan, sehingga posisinya tidak sebagai budak, melainkan sebagai perempuan berstatus tinggi yang turut berperan dalam misi kenabian (ini akan dijelaskan di tulisan tentang Hagar).

Dari rahim Hagar, lahirlah Ismael ketika Abraham berusia 86 tahun (Kejadian 16:15–16). Namun, Tuhan menegaskan kembali bahwa bukan melalui Hagar, melainkan melalui Sarah, istri Abraham, akan lahir anak perjanjian.

“Aku akan memberkatinya (Sarah), dan daripadanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki…” (Kejadian 17:16)

Sarah digambarkan sebagai istri Ibrahim yang tertawa heran ketika malaikat memberi kabar gembira bahwa ia akan melahirkan seorang anak dalam usia lanjut:

“Dan isterinya berdiri lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq, dan setelah Ishaq, Ya’qub.” (QS. Hud [11]:71)

“Dia berkata: ‘Sungguh mengherankan, aku akan melahirkan padahal aku seorang perempuan tua, dan ini suamiku juga sudah tua?’” (QS. Hud [11]:72)

Abraham berusia 99 tahun dan Sarah 89 tahun. Namun Tuhan berfirman:

“Adakah sesuatu yang mustahil untuk Tuhan? Pada waktu yang telah ditetapkan itu tahun depan, Aku akan datang kembali kepadamu, dan pada waktu itulah Sarah mempunyai seorang anak laki-laki.” (Kejadian 18:14)

Dan benar, sesuai dengan janji-Nya, Tuhan memberkati rahim Sarah. Pada usia 90 tahun, Sarah melahirkan Ishak, anak perjanjian yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham dan Sarah (Kejadian 21:1–5). Peristiwa itu bukan hanya menjadi puncak dari pengharapan mereka, tetapi juga menunjukkan peran sentral Sarah dalam penggenapan rencana Tuhan yang menjadi penting ketika melihat bahwa peran Sarah sebagai pasangan Abraham, sebagai poros genealogis dan simbol perjanjian ilahi.

 

Penulis: Gwen & Abqurah

Editor: Reine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *