Bagaimana Tuhan berbicara kepada manusia? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersembunyi satu kegelisahan filosofis yang dalam: jika Tuhan adalah sumber kebenaran yang absolut, mengapa wahyu tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung, terang, dan tanpa ambiguitas? Mengapa ia justru kerap datang melalui perumpamaan, simbol, dan gambaran yang menuntut tafsir?
Dalam tradisi wahyu Abrahamik, terutama dalam Al-Qur’an dan ajaran Yesus Kristus dalam Alkitab, perumpamaan bukanlah ornamen bahasa. Ia adalah medium utama komunikasi ilahi. Ini mengundang satu kemungkinan pembacaan yang lebih radikal: bahwa Tuhan tidak sekadar *menggunakan* perumpamaan, tetapi *memilihnya secara sadar* sebagai strategi untuk menyampaikan sekaligus menjaga kebenaran.
_______________________________________________________________________________________________
Salah satu asumsi modern yang sering tak disadari adalah bahwa bahasa literal selalu lebih “jujur” daripada bahasa simbolik. Kita menganggap bahwa semakin langsung suatu pesan, semakin mudah pula ia dipahami. Namun wahyu tampaknya bergerak dengan logika yang berbeda. Ia tidak selalu mempermudah dalam arti permukaan; ia justru memperdalam.
Di dalam Al-Qur’an, kita menemukan pembagian yang terkenal antara ayat-ayat *muhkamat* dan *mutasyabihat* (QS 3:7). Yang pertama adalah ayat-ayat yang tegas dan menjadi fondasi hukum serta prinsip. Yang kedua adalah ayat-ayat yang membuka ruang ambiguitas, metafora, dan penafsiran. Di antara bentuk paling khas dari yang terakhir adalah *amtsal*—perumpamaan.
Ambil contoh dalam QS 14:24–25: kebenaran diibaratkan sebagai pohon yang baik—akarnya menghujam, cabangnya menjulang, dan buahnya terus memberi manfaat. Di sini, kebenaran tidak dijelaskan secara definisional, tetapi dihadirkan sebagai citra hidup. Ia bukan konsep mati, melainkan organisme yang tumbuh, berakar, dan berbuah.
Mengapa demikian?Karena kebenaran itu sendiri tidak bersifat datar.
_______________________________________________________________________________________________
Secara epistemologis, perumpamaan menunjukkan bahwa mengetahui kebenaran bukan sekadar menerima informasi, melainkan memasuki proses pemaknaan. Perumpamaan tidak memberikan jawaban; ia mengundang partisipasi. Ia memaksa akal untuk bergerak, menghubungkan, dan menafsir.
Kebenaran, dalam kerangka ini, bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya “ditransfer” secara instan. Ia harus *ditemukan kembali* oleh setiap jiwa.
Secara ontologis, ini mengisyaratkan bahwa realitas yang dibicarakan wahyu memang berlapis. Dunia tidak hanya terdiri dari apa yang tampak. Dengan demikian, bahasa yang digunakan untuk mengungkapkannya juga tidak bisa tunggal dan linear. Perumpamaan menjadi jembatan antara yang tak terlihat dengan pengalaman manusia yang terbatas.
Ada satu kalimat yang layak direnungkan:Kebenaran yang terlalu datar akan kehilangan kedalamannya; kebenaran yang terlalu telanjang akan kehilangan kemuliaannya.
_______________________________________________________________________________________________
Dimensi spiritual memperdalam lagi pembacaan ini. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa tidak semua orang dapat mengambil pelajaran dari perumpamaan kecuali mereka yang berakal dan memiliki kesiapan batin. Hal serupa terlihat dalam ajaran Yesus Kristus, terutama dalam Perumpamaan Penabur: benih yang sama jatuh di tanah yang berbeda dan menghasilkan respons yang berbeda pula.
Di sini, persoalannya bukan pada kejelasan pesan, tetapi pada kondisi penerima.
Perumpamaan bekerja seperti cermin: ia tidak hanya menunjukkan sesuatu, tetapi juga memantulkan siapa kita saat melihatnya. Mereka yang dangkal akan menangkapnya secara dangkal; mereka yang dalam akan menemukan lapisan yang lebih dalam.
Wahyu tidak hanya berbicara tentang kebenaran; ia menguji kapasitas manusia untuk menerimanya.
_______________________________________________________________________________________________
Namun dimensi yang sering terlewat adalah dimensi peradaban. Jika wahyu dipahami sebagai bagian dari proyek ilahi untuk membentuk *Dien*—sebuah keteraturan hidup yang menyeluruh—maka perumpamaan memiliki fungsi sosial yang penting.
Bahasa simbolik memungkinkan satu teks yang sama hidup lintas zaman, lintas budaya, dan lintas tingkat intelektual. Ia tidak membeku dalam satu konteks historis.
Ia terusberbicara ulang kepada generasi yang berbeda, tanpa kehilangan esensinya.
Perumpamaan menjaga agar kebenaran tidak direduksi menjadi sekadar slogan moral atau hukum kaku. Ia mempertahankan daya hidup wahyu sebagai sumber refleksi, bukan hanya instruksi.
Dalam arti ini, perumpamaan adalah mekanisme keberlanjutan peradaban. Ia membuat wahyu tetap relevan tanpa harus diubah.
_______________________________________________________________________________________________
Jika kita melihat secara sintesis, baik dalam Al-Qur’an maupun dalam ajaran Yesus Kristus, terdapat pola yang konsisten: kebenaran tidak diberikan secara massal dalam bentuk yang seragam. Ia disampaikan dalam bentuk yang mengundang diferensiasi—antara yang mencari dan yang lalai, antara yang merenung dan yang sekadar mendengar.
Ini membawa kita pada implikasi teodisi yang penting: mengapa tidak semua orang memahami kebenaran?
Jawabannya bukan semata karena kebenaran itu tersembunyi, tetapi karena ia memang dirancang untuk tidak dapat direduksi menjadi konsumsi instan. Ada unsur keadilan di sini—bukan dalam arti semua orang mendapatkan pemahaman yang sama, tetapi dalam arti setiap orang diberikan kesempatan yang proporsional dengan usahanya, keterbukaannya, dan kejujurannya.
Keadilan ilahi, dalam perspektif ini, tidak identik dengan keseragaman hasil, tetapi dengan keterbukaan jalan.
Tuhan tidak menyembunyikan kebenaran; Ia menyelubunginya agar tidak dipermainkan.
_______________________________________________________________________________________________
Pada akhirnya, perumpamaan mengajak kita untuk mengubah cara kita membaca wahyu. Bukan lagi sebagai kumpulan pernyataan yang harus segera dipahami, tetapi sebagai lanskap makna yang harus dijelajahi.
Ia menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kesiapan untuk tidak selalu mengerti secara instan. Ia mengingatkan bahwa memahami bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga soal kepekaan.
Dan mungkin di situlah letak kebijaksanaan terdalamnya:bahwa Tuhan berbicara tidak hanya untuk didengar, tetapi untuk dihayati;tidak hanya untuk diketahui, tetapi untuk mengubah cara kita menjadi manusia.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.
