Bangsa Nuh

Nuh adalah nabi yang diutus Allah untuk melakukan ishlah (perbaikan) dan mengembalikan Kerajaan Allah yang dahulu dibangun oleh Adam serta hamba-hamba-Nya. Saat itu, umat manusia hidup dalam kondisi tertindas, terpecah belah, dan bergolong-golongan. Allah mengutus Nuh sebagai rasul untuk memimpin mereka kembali ke jalan yang benar, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ar-Rūm [30]: 30-32.

Misi utama Nabi Nuh adalah mengajak umat manusia yang telah lama hidup dalam kezaliman untuk kembali kepada kebenaran. Allah akan mengazab mereka yang sebelumnya menjadi kekasih-Nya tetapi berkhianat dan berbalik menjadi musuh-Nya. Ketika ajal mereka tiba, tidak ada yang dapat mengundurkannya atau memajukannya. Allah tidak pernah berbuat zalim kepada manusia, sehingga Dia mengutus Nuh terlebih dahulu sebelum menurunkan azab-Nya kepada kaum yang zalim. Sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih” (QS. Nūh [71]: 1).

Hingga suatu masa, Nabi Nuh diperintahkan untuk membawa orang-orang beriman berlayar dengan kapal. Nuh telah berdakwah dengan penuh kesabaran, tetapi kaumnya tetap menolak ajakannya. Ketika azab Allah datang, hanya orang-orang beriman yang naik ke dalam “bahtera”. Saat Nuh hendak menyelamatkan keluarganya, ada anggota keluarganya yang menolak. Malaikat pun berkata, “Ia bukan bagian dari keluargamu.” Hal tersebut menegaskan bahwa aqidah tidak bergantung pada hubungan keluarga. Aqidah memiliki kekuatan untuk memutuskan perasaan subjektif, hanya iman yang dapat menjadi dasar utama dalam menentukan kebenaran.

Kisah Nabi Nuh dan bahtera yang menyelamatkan manusia serta berbagai jenis makhluk hidup menjelang banjir besar memiliki makna simbolis dalam dakwah dan jihad. “Bahtera” melambangkan sarana dakwah yang diperlukan dalam perjalanan dari awal hingga akhir, yang membawa misi kebenaran. Dalam perjalanan dakwah, berbagai ujian dan rintangan selalu ada, seperti halnya bahtera yang menghadapi ombak di lautan.

 Penulis: Kamalingga 

 Editor: Reine

 konten: Reuven

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *