Kala Harap Menjelma Berkat, Nyatanya Musibah yang Menghantam Hebat

Bangsa Hud (Kaum ’Ad) merupakan contoh peringatan dalam Al‐Qur’an bagi umat yang mendustakan risalah Allah. Kisah kaum ‘Ad yang sering disebut dalam Al‐Qur’an mengajarkan pentingnya ketaatan dan menghindari kesombongan. Allah mengutus para rasul untuk mengajak manusia kembali beribadah hanya kepada‐Nya serta meninggalkan pengabdian selain‐Nya. Pesan ini muncul di tengah zaman kegelapan yang dikuasai oleh penguasa zalim. Renungan ini mengajak kita merenungkan sejarah umat terdahulu sebagai peringatan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Sebagai renungan, perhatikan ayat berikut dari surat AtTaubah ayat 70:

 اَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَاُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ وَّثَمُوْدَ ەۙ وَقَوْمِ اِبْرٰهِيْمَ وَاَصْحٰبِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكٰتِۗ اَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنٰتِۚ فَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ

Alam ya’tihim naba’u alladhina min qablihim qawmi Nuhin wa ‘Aadin wa Thamud

“Apakah tidak sampai kepada mereka berita tentang kaum Nuh, ‘Aad, dan Thamud?”

Ayat ini menegaskan bahwa umat terdahulu telah menerima peringatan melalui risalah yang dibawa para rasul

Selanjutnya, dalam surat Shad ayat 12, Allah berfirman:

                                                                                 كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّعَادٌ وَّفِرْعَوْنُ ذُو الْاَوْتَادِۙ

“Kaum Nuh sebelum mereka mendustakan, begitu pula kaum ‘Aad dan Fir’aun.”

Kemudian, dalam surat Yusuf ayat 111 terkandung pesan yang mendalam:

لَقَدْ كَانَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۗ مَا كَانَ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, dalam kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kisah para nabi bukanlah cerita yang direkayasa, melainkan bukti kebenaran wahyu Allah
yang membenarkan kitab-kitab terdahulu serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi yang beriman.

Kehidupan kaum Kaum ‘Ad makmur karena dilimpahi dengan ladang pertanian yang terhampar subur nan hijau, hewan ternak yang sehat dan banyak, serta aliran air yang melimpah dan segar. Selain itu, perawakan tubuh kaum ‘Ad juga diketahui besar dan kuat sehingga sangat menguntungkan mereka dalam bekerja sehari-harinya. Namun kenikmatan dan berbagai berkah yang dilimpahkan kepada kaum ‘Ad tidak serta merta membuat mereka bersyukur dan mengabdi kepada yang benar. Kaum ‘Ad  Melalui ayat-ayat tersebut, kita diingatkan untuk tidak meniru kesombongan kaum terdahulu. 

tidak mengenal Allah sebagai Tuhan mereka, sama seperti yang dilakukan oleh kaum sebelum
mereka (kaum Nabi Nuh). 
Mereka justru mengabdi pada “Tuan” buatan mereka sendiri dan diberi nama dengan Shamud dan Alhattar. Keringat dan usaha tiada henti yang diperjuangkan oleh Nabi Hud dalam menyerukan kebenaran kepada kaum ‘Ad selain diabadikan ke dalam Al-Qur’an suratHud, juga diabadikan dalam surat Asy-Syu’ara ayat 128-135.

Namun kaum ‘Ad sama sekali tidak mempercayai Nabi Hud dan tidak mau meninggalkan pengabdian mereka. Bahkan kaum ‘Ad menuduh Nabi Hud ‘alaihissalam sudah terkena penyakit gila. Buntut dari perilaku kaum ‘Ad yang tamak dan sombong serta menentang Nabi Hud‘, maka Allah memberikan peringatan kepada mereka berupa kekeringan yang panjang. Musibah kekeringan yang menimpa kaum ‘Ad ini sempat membuat mereka resah dan khawatir. Mereka takut pertanian mereka gagal panen sehingga menyebabkan kelaparan. Celah tersebut yang dimanfaatkan oleh Nabi Hud‘ untuk meyakinkan kaum ‘Ad agar meninggalkan pengabdian mereka. Namun perkataan Nabi Hud benar-benar tidak dihiraukan sama sekali oleh mereka. Sesuai yang tertuang dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 70.

Akibat dari keras kepalanya kaum ‘Ad yang terus menerus menentang Nabi Hud dan menyekutukan Allah, maka selanjutnya Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan mendatangkan gumpalan awan hitam nan pekat. Para kaum ‘Ad berseru gembira karena mengira awan tersebut adalah pertanda datangnya hujan yang akan menyelamatkan ladang dan
pertanian mereka dari kekeringan. Awan hitam atau rezeki nomplok ini mereka kira justru menyelamatkan mereka dan menjadi hadiah besar bagi generasi akan datang.

Namun, di tengah sorak sorai kaum ‘Ad yang berbahagia atas kedatangan awan tersebut, Nabi Hud memberi peringatan bahwa awan hitam yang datang bukanlah pertanda baik akan turunnya hujan. Melainkan pertanda buruk akan datangnya azab dari Allah kepada kaum ‘Ad karena telah menyekutukan Allah. Tetapi sekali lagi peringatan yang disampaikan tidak dihiraukan oleh mereka.

Hingga akhirnya Allah benar-benar menjatuhkan azab kepada kaum ‘Ad dengan datangnya angin topan secara dahsyat. Angin topan tersebut langsung merobohkan dan menyapu apa saja yang ada seperti rumah, bangunan, berhala, ladang, hewan ternak, dan berbagai harta benda lainnya milik kaum ‘Ad. Angin topan kencang tersebut akhirnya mampu membinasakan kaum ‘Ad beserta berhala-berhala yang mereka abdi.

Sounds familiar, isn’t it? Awan hitam yang disangka hujan berkah itu bagaikan Limpahan modal yang masuk di tengah market yang lesu. Semua orang berharap suntikan modal itu jadi pemulihan ekonomi  layaknya kaum ‘Ad berharap hujan menyuburkan ladang mereka.

Tapi ternyata, modal itu justru liar, tidak produktif, jadi bubble asset, atau disedot elit-elit penguasa, akhirnya malah memicu resesi gila-gilaan, market loss, dan kebangkrutan massal.

Bagaimana dengan Nabi Hud? Beliau dan pengikutnya tetap aman, berdiam di rumah dan berpindah ke Hadramaut. Mereka menyusun kembali sistem kehidupan bersandarkan prinsip Teokrasi sehingga damai dan sejahteralah mereka.

Di skenario bagaikan kehancuran pasar tadi memang sebaiknya untuk tetap tenang dan tidak terpancing untuk ikut arus baik kiri maupun kanan. Melainkan memahami dan memberlakukan sistem ekonomi yang sebenar-benarnya sesuai dengan tuntunan yang benar.

Pengajaran dari kisah bangsa Hud (kaum ’Ad) mengingatkan kita bahwa setiap umat memiliki tanggung jawab untuk menanggapi risalah Allah dengan iman dan ketaatan. Sejarah umat terdahulu menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran membawa kehancuran.

Dengan menginternalisasi pelajaran tersebut, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih bijak dan tidak terjebak dalam kesombongan dunia. Semoga Allah memberikan petunjuk dan keberkahan kepada kita semua, serta menjauhkan kita dari jalan yang membawa malapetaka. Pengajaran dari kisah bangsa Hud (kaum ’Aad) mengingatkan kita bahwa setiap umat memiliki tanggung jawab untuk menanggapi risalah Allah dengan iman dan ketaatan. Sejarah umat terdahulu
menunjukkan bahwa penolakan terhadap kebenaran membawa kehancuran. Dengan menginternalisasi pelajaran tersebut, kita diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih bijak dan tidak terjebak dalam kesombongan dunia. Semoga Allah memberikan petunjuk dan keberkahan kepada kita semua, serta menjauhkan kita dari jalan yang membawa malapetaka.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *