Mengapa Diri Tetap Hampa Meski Tidak Kekurangan?

Ada paradoks sunyi yang sering kita rasakan di zaman ini: hidup terasa penuh, tetapi jiwa justru kosong. Kita memiliki akses ke hampir segala hal informasi, hiburan, peluang, bahkan validasi sosial namun tetap ada ruang hampa yang sulit dijelaskan. Perasaan ini bukan sekadar lelah atau jenuh. Ia lebih dalam, lebih eksistensial. Seolah-olah ada sesuatu yang hilang, tetapi kita tidak tahu apa.

Sering kali kita mengira kekosongan itu berasal dari kurangnya pencapaian. Maka kita menambah target, mempercepat langkah, dan mengisi hari dengan lebih banyak aktivitas. Namun anehnya, semakin banyak yang kita tambahkan, semakin terasa ada yang tidak terisi. Di titik ini, Al-Qur’an menawarkan perspektif yang berbeda: mungkin masalahnya bukan pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita abaikan.

Dalam salah satu ayat, disebutkan bahwa siapa yang berpaling dari peringatan Allah, maka hidupnya akan terasa sempit. Sempit di sini bukan berarti miskin secara materi. Banyak orang memiliki segalanya, tetapi tetap merasa terhimpit dalam jiwanya. Ini adalah kesempitan yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa sebuah kegelisahan yang tidak bisa diselesaikan dengan pencapaian duniawi.

Kita hidup dalam budaya yang mendorong kita untuk terus “menambah”: lebih sukses, lebih dikenal, lebih produktif. Namun jarang sekali kita diajak untuk bertanya, apakah semua itu benar-benar mengisi, atau hanya mengalihkan? Kita mungkin sibuk mengisi waktu, tetapi lupa mengisi makna. Kita memperhatikan apa yang terlihat di luar, tetapi mengabaikan apa yang terjadi di dalam diri.

Al-Qur’an tidak menolak dunia, tetapi ia mengingatkan tentang pusatnya. Bahwa jiwa manusia memiliki orientasi. Jika ia tidak diarahkan kepada sesuatu yang lebih tinggi, ia akan terus merasa kurang, betapapun banyaknya yang dimiliki. Di sinilah letak akar dari kekosongan itu: bukan karena hidup kita tidak cukup, tetapi karena jiwa kita tidak terhubung.

Ketenangan, dalam perspektif Al-Qur’an, bukan hasil dari akumulasi, melainkan keterhubungan. Bukan tentang memiliki lebih banyak, tetapi tentang kembali kepada sumber yang benar. Mengingat Allah bukan sekadar ritual, tetapi sebuah cara untuk menata ulang arah hidup mengembalikan diri pada pusatnya.

Mungkin, pada akhirnya, yang kita cari bukanlah sesuatu yang baru. Bukan pula sesuatu yang lebih banyak. Tapi sesuatu yang sudah lama kita kenal, namun perlahan kita tinggalkan: rasa pulang.

Penulis: Abqurah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *